ONDONG – Lokasi tragedi pertumpahan darah dua putra mahkota Raja Siau Lokongbanua antara Pasumah dan Angkumang dijadikan menjadi nama tempat mengenang peristiwa tersebut.

Meskipun kisahnya banyak diketahui warga, namun untuk lokasinya cuma segelintir orang saja yang mengetahui. Penelusuran Sindomanado.com, lokasi pertumpahan darah tersebut ternyata terletak di antara sebagian wilayah dusun I dan dusun II Desa Salili di Kecamatan Siau Tengah.

Kapitalau (Kepala Desa) Salili Maria Wisje Kuheba, mengatakan, berdasar penuturan para tetua dinamai Liwuadaha artinya adalah karena banyak darah yang tertumpah pada peperangan tersebut.

Kapitalau Salili Maria Wisje Kuheba. (FOTO: Istimewa)

“Ada yang mengartikan Liwuadaha adalah berenang di kolam darah. Ada juga yang mengatakan lautan darah. Intinya semua sama yaitu banyak darah,” terangnya.

Kuheba mencoba menceritakan kembali kisah tersebut. Dia menguraikan, kisah berawal ketika Kerajaan Siau dipimpin oleh Raja Lokongbanua. Dia mempunyai dua orang putra mahkota yakni Pasumah dan Angkumang.

Semasa hidupnya Raja Lokongbanua tidak pernah bertitah secara jelas terkait siapa pewaris tahta kerajaan untuk mengantikannya. Bahkan sampai raja wafat tahun 1549, tidak ada juga wasiat siapa pewaris tahta tersebut.

“Tak pelak, perebutan kekuasaan pun terjadi setelah kematian Raja Lokongbanua. Baik Pasumah maupun Angkumang sama-sama berhasrat ingin menjadi raja. Meskipun Pasumah lebih mudah, dia tidak mau memberikan tahta kepada sang kakak Angkumang,” beber Kuheba.

Kemudian, lanjut kapitalau, pertikaian kakak beradik pun terjadi. Kala itu, Angkumang memilih berdomisili di Kota Ulu. Adapun Pasumah tinggal di istana di Paseng. Kondisi ini membuat Pasumah sedikit diuntungkan karena memiliki hubungan dekat dengan lingkaran pejabat dan prajurit kerajaan.

“Pasumah pun berhasil menyingkirkan Angkumang dari lingkaran kerajaan. Dengan sakit hati, Angkumang pulang ke Kota Ulu. Akan tetapi, Angkumang memberi peringatan kepada Pasumah bahwa kelak ia akan membalas sakit hatinya,” ucap Kuheba.

Menurut kapitalau, dari kejadian tersebut hubungan kedua kakak beradik berubah menjadi permusuhan. Keduanya sama-sama menggalang kekuatan. Sehingga perang pun tak terelakan.

“Puncaknya adalah perang di Salili yang menelan korban ratusan prajurit meninggal dunia. Darah berceceran di lokasi peperangan ibaratnya lautan darah. Oleh karena itu dinamakan Liwuadaha,” ujarnya.

“Perang tersebut dimenangkan oleh Pasumah. Angkumang mengundurkan diri kembali ke Ulu. Kemenangan ini memantapkan Pasumah menaiki tahta menjadi raja.”

“Pasumah mengakhiri pertikaian dengan Angkumang dengan mengangkat kakaknya tersebut menjadi Jogugu di Ulu,” pungkas Kuheba. (Jackmar Tamahari)