Dinkesda Sulut Dorong Bupati/Wali Kota Pacu Imunisasi Campak Rubella pada BIAN 2022

oleh
Tim Dinkesda Sulut saat melakukan audiensi bersama Wali Kota Bitung Maurits Mantiri. (foto: istimewa)

MANADO – Capaian Imunisasi Campak Rubella kepada anak usia 9 bulan sampai 12 tahun di Sulawesi Utara (Sulut) pada pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) 2022 baru di angka 57,0% dari data terakhir hingga Selasa, 6 September 2022.

Pencapaian ini masih berada di bawah target yang diberikan, yakni 95%, sementara pelaksanaan BIAN segera berakhir pada 13 September mendatang.

Pemerintah Provinsi Sulut melalui Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) terus berupaya mengejar target dengan melakukan edukasi dan koordinasi di waktu yang tersisa tinggal sepekan.

Terpantau, Tim Dinkesda Sulut turun ke Kota Bitung untuk bertemu Wali Kota Maurits Mantiri pada Rabu (7/9/2022).

Kota Bitung masuk di tiga daerah yang sesuai data masih rendah dalam capaian imunisasi campak rubella dengan angka 47,8%.

Dua daerah lainnya yang masih rendah yakni Kabupaten Bolmong Utara 48,5% dan Kota Kotamobagu dengan angka 43,9%.

Kepala Dinkesda Sulut dr Debie Kalalo melalui Kasie Surveilans dan Imunisasi, Mery Pasorong SKM MKes mengatakan, audiensi bersama Wali Kota Bitung turut didampingi pihak UNICEF dan WHO.

“Pak Wali Kota Maurits Mantiri sangat merespon positif. Bahkan pak wali membuat video sebagai bentuk ajakan kepada warga Bitung untuk menyukseskan BIAN ini,” kata Mery.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkesda Sulut, dr Gysje Pontororing MSc PH, memaparkan dua kegiatan besar dalam program BIAN tahun 2022.

“Pertama, yaitu imunisasi tambahan berupa campak-rubela, serta imunisasi kejar untuk pemberian OPV, IPV. Kedua, yakni PT-Hb-Hib guna melengkapi status imunisasi dasar maupun lanjutan bagi anak yang belum menerima dosis vaksin sesuai usia,” kata Pontororing.

Ia mengakui, Pemprov Sulut terus kerja keras untuk menyukseskan BIAN dengan ditopang UNICEF dan Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Berbagai upaya, katanya, terus dilakukan baik dengan edukasi kepada masyarakat khususnya para orangtua, termasuk juga mobilisasi sasaran oleh lintas sektor terkait.

“Seperti dinas kesehatan, kementrian agama, pihak sekolah dan PAUD, Dinas Pemberdayaan Masyarakat (PMD), pemerintah daerah baik desa dan kelurahan, forum anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI),” jelasnya.

Ia mengatakan program BIAN tersebut akan berakhir pada tanggal 13 September 2022 mendatang.

“Masih ada sedikit waktu mungkin sepekan untuk kita memacu BIAN ini. Tentunya butuh dukungan semua pihak termasuk insan pers di Sulut agar program ini bisa semakin sukses,” ujarnya.

Meski begitu, Pontoring mengakui masih ada banyak orangtua yang menganggap imunisasi lewat program BIAN ini tidak begitu penting.

Padahal, katanya, manfaat BIAN tersebut akan baik untuk pertumbuhan dan kesehatan anak-anak.

Ia memaparkan sejumlah manfaat dari imunisasi tersebut. Pertama, proteksi spesifik individu yaitu setiap orang yang mendapatkan imunisasi akan membentuk antibodi, spesifik terhadap penyakit tertentu.

Kedua, membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) yaitu, apabila cakupan imunisasi tinggi dan merata dapat membentuk kekebalan kelompok dan melindungi kelompok masyarakat yang rentan.

Ketiga, proteksi lintas kelompok yaitu pemberian imunisasi pada kelompok usia tertentu (anak) dapat membatasi penularan kepada kelompok usia dewasa/orangtua.

“Kami berharap para orangtua dapat menyadari pentingnya imunisasi lengkap dan tambahan bagi anak lewat program BIAN Ini. Kita harus menyuseskan ini bersama,” ajaknya. (rivco)