MANADO — Inflasi Sulawesi Utara (Sulut) pada Januari 2026 tercatat sebesar 1,23 persen. Ini menjadi salah satu yang terendah secara nasional.
“Capaian ini didukung panen raya dan kelancaran distribusi pasokan pangan melalui kerja sama antar daerah,” ucap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, dalam kegiatan refreshment wartawan BI pada Kamis (26/2/2026).
Dikatakannya, komoditas seperti beras dan ikan yang sebelumnya kerap menjadi pemicu inflasi, justru mampu menjadi penahan laju inflasi berkat pasokan yang memadai.
Meski demikian, tekanan inflasi bulanan masih dipengaruhi kelompok volatile food seperti komoditas perikanan dan hortikultura yang sensitif terhadap cuaca.
Joko menegaskan, capaian inflasi rendah ini merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, serta dukungan media dalam menjaga ekspektasi masyarakat.
“Inflasi yang rendah dan stabil menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi. Namun kita tetap waspada terhadap risiko fluktuasi pasokan, terutama komoditas pangan yang sangat bergantung pada musim dan distribusi,” ujarnya.
Lebih lanjut, dalam menghadapi momentum Idulfitri, Bank Indonesia bersama TPID memperkuat strategi 4K yakni Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.
Ketersediaan pasokan dilakukan melalui kerja sama antar daerah (KAD), distribusi komoditas dari daerah surplus ke daerah defisit diperkuat. Selain itu, dilakukan sidak pasar serta pengawasan distribusi beras SPHP.
Keterjangkauan Harga dilakukan melalui Operasional Kios TPID “Maju” dan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) diperluas di berbagai kabupaten/kota. Sepanjang tahun sebelumnya, ratusan titik GPM digelar untuk menjaga stabilitas harga.
Kelancaran Distribusi dilakukan melalui Pemerintah daerah yang memfasilitasi distribusi pangan, termasuk subsidi ongkos angkut untuk menjaga harga tetap stabil hingga ke wilayah kepulauan.
Kemudian, Komunikasi Efektif dilakukan lewat High Level Meeting (HLM) yang rutin digelar untuk memperkuat sinergi kebijakan, serta mempercepat tindak lanjut atas dinamika harga di lapangan.
Selain menjaga stabilitas harga, BI juga mengingatkan masyarakat agar berbelanja bijak dan tidak terjebak pinjaman online ilegal.
Edukasi literasi keuangan serta penggunaan transaksi digital seperti QRIS terus digencarkan agar masyarakat dapat mengelola keuangan secara lebih sehat.
“Kami optimistis inflasi 2026 tetap berada dalam sasaran nasional 2,5 persen ±1 persen,” ucap Joko.
Adapun, kata Joko, risiko yang perlu diwaspadai antara lain fluktuasi pasokan pangan akibat musim, peningkatan aktivitas penerbangan dan permintaan wisata, hinhga kenaikan harga komoditas global seperti emas.
Namun, berbagai program seperti swasembada pangan, optimalisasi intervensi pasar, bantuan pangan beras, serta perluasan Gerakan Pangan Murah diyakini mampu menahan tekanan inflasi.
“Kami optimistis inflasi tetap terkendali sepanjang 2026 dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, media, dan masyarakat,” tutup Joko. (nando)


Tinggalkan Balasan