MANADO — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara mencatat inflasi bulanan (month to month) pada Juni 2026 sebesar 2,12 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Dengan angka tersebut, inflasi tahun kalender (year to date) Sulut hingga Juni 2026 tercatat 4,48 persen, sementara inflasi tahun ke tahun (year on year) berada di angka 3,83 persen.

Kepala BPS Sulawesi Utara, Watekhi, menjelaskan bahwa kenaikan inflasi Juni 2026 tidak lepas dari lonjakan harga sejumlah komoditas pangan strategis, khususnya cabai rawit dan bawang merah, yang menjadi penyumbang andil inflasi terbesar pada periode tersebut.

“Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor utama dengan inflasi 5,34 persen dan andil 1,77 persen terhadap inflasi umum,” ucapnya dikutip dari Berita Resmi Statistik, Rabu (1/7/2026).

Kelompok transportasi turut menyumbang andil cukup signifikan sebesar 0,22 persen, diikuti kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan andil 0,04 persen.

Kenaikan Harga Cabai Rawit dan Bawang Merah
Berdasarkan penjelasan Watekhi, kenaikan harga cabai rawit pada Juni 2026 disebabkan oleh terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi seperti Gorontalo, yang mengalami gagal panen akibat banjir sehingga hasil panen berkurang.

Cabai rawit tercatat sebagai komoditas dengan andil pendorong inflasi tertinggi, yakni 1,01 persen.

Sementara itu, harga bawang merah juga mengalami kenaikan akibat terbatasnya stok dan berkurangnya distribusi dari daerah pemasok seperti Bima dan Sulawesi Selatan, dengan andil pendorong inflasi sebesar 0,33 persen.

Watekhi menambahkan bahwa memasuki akhir periode Juni, harga bawang merah mulai menunjukkan tren penurunan seiring pulihnya kembali pasokan ke pasar.

Beras turut menjadi penyumbang inflasi dengan andil 0,20 persen, dipicu oleh terbatasnya pasokan karena daerah sentra produksi belum memasuki masa panen.

Komoditas lain yang turut mendorong inflasi antara lain angkutan udara dengan andil 0,09 persen dan bensin dengan andil 0,07 persen.

Daging Ayam Ras Jadi Penahan Inflasi
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi.

Daging ayam ras tercatat sebagai penahan inflasi terbesar dengan andil -0,04 persen, seiring meningkatnya pasokan dari distributor dan supplier.

Komoditas penahan inflasi lainnya adalah telur ayam ras (-0,03 persen), tomat (-0,02 persen), serta cumi-cumi dan ikan mujair yang masing-masing menyumbang andil -0,01 persen.