MANADO – Perekonomian Sulawesi Utara mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,54 persen (yoy) pada triwulan I 2026.
Meskipun angka tersebut sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen (yoy), Bank Indonesia menilai fondasi ekonomi daerah ini tetap kuat dari sisi sektor riil.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menjelaskan bahwa posisi Sulut yang berada di bawah nasional bukan disebabkan oleh pelemahan menyeluruh, melainkan oleh perbedaan kinerja antarkompetensi.
“Secara lebih spesifik, sektor produksi riil Sulut unggul, namun sektor yang bergantung stimulus fiskal tertinggal,” ujar Joko, Rabu (20/5/2026).
Dari sisi lapangan usaha, sejumlah sektor mencatat kinerja melampaui nasional, di antaranya Pertanian (5,43% vs 4,97%), Transportasi (9,96% vs 8,04%), dan Pengolahan (7,53% vs 5,04%).
Dari sisi pengeluaran, Konsumsi Rumah Tangga tumbuh 5,93 persen (yoy) dan Ekspor tumbuh 2,41 persen, keduanya lebih tinggi dibandingkan nasional.
Namun Joko mencatat bahwa akselerasi pertumbuhan Sulut tertahan oleh komponen yang erat kaitannya dengan transmisi fiskal.
Kesenjangan terdalam terlihat pada Konsumsi Pemerintah yang tumbuh jauh lebih rendah dibandingkan nasional, dengan gap mencapai 13,9 persen.
“Kondisi ini mengindikasikan bahwa ekspansi belanja pemerintah pusat belum sepenuhnya tertransmisi ke perekonomian daerah,” tegasnya.
Ke depan, Joko menyebut bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Sulut 2026 diperkirakan berada pada kisaran 5,4 hingga 6,3 persen.
“Ditopang oleh akseptansi digital yang semakin merata, konsumsi yang solid, serta penguatan perdagangan dan hilirisasi,” tuturnya. (nando)


Tinggalkan Balasan