MANADO — Provinsi Sulawesi Utara mencatatkan deflasi sebesar 0,61 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Mei 2026.
Penurunan harga ini utamanya didorong oleh melimpahnya pasokan komoditas hortikultura, khususnya cabai rawit, di tengah musim panen yang berlangsung di sejumlah daerah sentra produksi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, Watekhi, mengungkapkan bahwa deflasi bulan ini menjadi sinyal positif bagi daya beli masyarakat.
“Deflasi yang terjadi pada Mei 2026 ini terutama dipicu oleh penurunan harga cabai rawit yang menjadi penahan inflasi terbesar dengan andil minus 0,45 persen, disusul ikan selar/ikan tude dan ikan malalugis/ikan sorihi,” ujar Watekhi, Selasa (2/6/2026).
Dari sisi kelompok pengeluaran, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan inflasi minus 2,28 persen dan andil minus 0,78 persen terhadap inflasi umum.
Di sisi lain, sejumlah komoditas masih memberikan tekanan inflasi. Tomat menjadi pendorong inflasi tertinggi dengan andil 0,16 persen, menyusul kenaikan harga akibat terbatasnya pasokan dari daerah produksi yang belum memasuki masa panen. Sementara itu, Angkutan udara dan telepon seluler masing-masing turut menyumbang andil sebesar 0,03 persen.
Lebih lanjut dikatakannya, secara tahun kalender, Sulut mencatatkan inflasi sebesar 2,30 persen hingga Mei 2026.
“Kami terus memantau pergerakan harga secara intensif, khususnya komoditas pangan strategis, agar tekanan inflasi dapat dikendalikan dengan baik,” sebut Watekhi. (nando)


Tinggalkan Balasan