Penulis : Gladys Runtukahu Dewan Pembina BPC Perhumas Manado

SINDOMANADO.COM, Jakarta — Sekira tujuh tahun lalu, saya bertemu Bapak Daniel Rembeth untuk pertama kali, di sebuah lounge hotel di kawasan Sudirman, Manado. Saya datang bersama Claudia Rahim, rekan saya yang kala itu menjabat redaktur pelaksana di Koran Sindo Manado. Rupanya, Pak Daniel sedang menjalankan tugas kantor sekaligus pulang kampung, sebab ayah dan ibunya, Jenny Tambajong, sama-sama orang Manado.

Pertemuan itu difasilitasi salah satu pengurus BPP Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia. Saat itu saya menjabat Ketua Perhumas Manado, dan sudah menjadi kebiasaan kami menyambut pengurus BPP maupun BPC Perhumas dari daerah lain setiap kali mereka berkunjung — bagian dari menjaga silaturahmi antarpengurus. Daniel Rembeth sendiri tercatat sebagai salah satu anggota BPP Perhumas. Kala itu, beliau masih memegang jabatan sebagai External Relations and Communications Director di PwC Indonesia. PwC adalah salah satu firma jasa profesional terbesar dunia yang bergerak di bidang audit, konsultasi pajak, dan penasihat bisnis.


Mantan CEO The Jakarta Post yang Mengawali Karier di New York Times

Semuanya berlangsung serba mendadak. Siang hari saya dihubungi, sore harinya saya sudah duduk berhadapan dengan beliau. Jujur saja, saya tidak sempat mencari tahu latar belakangnya lebih jauh — yang saya tahu, beliau salah satu pengurus BPP. Beliau pun memperkenalkan diri seadanya: nama, lalu keterlibatan di Perhumas. Tidak ada nada – nada menyombongkan diri atau merasa hebat atau orang Manado bilang “makang puji”.

Obrolan berlangsung kurang dari satu jam, tapi kehangatannya membekas. Layaknya seorang senior, beliau justru banyak bertanya soal perkembangan profesi Public Relations dan media di Manado, sebelum akhirnya bercerita tentang pengalamannya sendiri di dunia komunikasi dan justru ketertarikan dan keterlibatan beliau di politik.

Baru setelah beliau pergi, saya menyempatkan diri mencari tahu lebih jauh tentang sosok yang baru saya temui itu. Hasilnya bikin saya tersentak. Orang yang tadi bicara dengan saya, sederhana dan begitu ramah, ternyata seorang senior besar di dunia jurnalisme dan komunikasi. Saya yang waktu itu merasa sangat junior di dunia media pun sempat tertegun — tanpa sadar, saya baru saja mengobrol santai dengan mantan CEO The Jakarta Post, posisi yang beliau pegang selama lima tahun.


Persaudaraan di Balik Seragam Organisasi

Sejak pertemuan itu, beliau minta disapa “Om Danrem” saja. Dalam berbagai acara BPP Perhumas di berbagai kota Indonesia, Om Danrem — yang tercatat sebagai Dewan Pakar BPP Perhumas periode 2021–2024 — selalu menyempatkan diri menyapa rekan-rekan BPC Perhumas Manado secara khusus. Kebetulan, beberapa pengurus BPP Perhumas Pusat memang berdarah Manado, sehingga suasana kekeluargaan itu terasa lebih kental.

Di periode 2024–2027 ini saja, Dewan Pakar ada Erwin Parengkuan, CEO dan Founder TalkInc. Di barisan Wakil Ketua BPP, ada Marlene Danusutedjo, Head of Marketing Communication Fairmont Hotel Jakarta, dan Troy Warokka, Direktur Operasional ITDC sekaligus Chairman Indonesia MotoGP. Ada juga Alfred Menayang, Director Dekarbon Nusantara Unggul yang juga mengajar di Universitas Bunda Mulia. Yang terakhir ini, Alfred Menayang adalah Wakil Ketua BPP yang melantik kepengurusan BPC Perhumas Manado periode 2026–2029 di bawah kepemimpinan Hery Rumondor. Lalu, ada juga Steve Saerang, kini Head of Communication di IT SEC Asia. Masih banyak lagi nama Kawanua lain yang ikut mewarnai barisan Perhumas.

Setiap bertemu, kami selalu menyempatkan diri berbagi cerita. Obrolan kami kerap diwarnai kebiasaan khas orang Manado, dan bahasa Manado selalu terselip di sela-sela canda tawa. Kehangatan semacam itulah yang membuat Om Danrem begitu dekat di hati banyak orang, bahkan bukan hanya sesama warga Kawanua. Tidak hanya disitu, dalam pembicaraan tersebut hadir gagasan – gagasan tentang kehumasan, dan bahkan rencana untuk kolaborasi kegiatan di Manado. Sebuah rencana dengan om Danrem yang belum sempat diwujudkan bersama.


Kabar Duka dari Jakarta

Kabar duka itu datang melalui Group WhatsApp Perhumas. Daniel Rembeth berpulang di RS MMC Jakarta pada Rabu, 19 Agustus 2026. Kepergiannya menyedihkan, menyusul sejumlah tokoh komunikasi asal Kawanua yang sebelumnya juga pernah bergabung dengan BPP Perhumas — di antaranya almarhumah Richelle Maramis, Senior VP Division Head Corporate Affairs PT Bank Permata Tbk, dan almarhum Troy Pantow, juru bicara Otorita IKN.

Jenazah almarhum disemayamkan di Rumah Duka St Carolus, Jakarta, sebelum dimakamkan di TPU Menteng Pulo pada Jumat, 21 Agustus 2026. Saat kabar kepergian almarhum diketahui publik, ucapan bela sungkawa pun mengalir dari berbagai organisasi dan komunitas.

Perhumas Indonesia menyampaikan rasa kehilangan mendalam, begitu pula ILUNI dan Save the Children, yang mengenang kontribusi almarhum selama ini. Ucapan duka juga datang dari Tim Kreasi Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Selain itu, Keluarga Besar PAFI, Himpunan Humas Hotel Indonesia, dan LPBI NU Jawa Barat turut mengirimkan ucapan duka cita. Masih banyak lagi organisasi dan individu yang menyampaikan penghormatan terakhir bagi almarhum.

Perjalanan Karier Panjang di Dunia Media dan Bisnis


Daniel Rembeth punya lebih dari 25 tahun pengalaman profesional, dan menariknya, ia tidak memulai karier di dunia media. Ia menguraikan informasi karier dan aktivitasnya di profil LinkedIn miliknya. Pada 1985–1986, ia lebih dulu bekerja sebagai arsitek dan perencana di Ciputra Group, sejalan dengan gelar arsitek yang ia peroleh dari Universitas Kristen Indonesia.

Kariernya baru berbelok ke media internasional setelah itu. Ia menjabat Area Supervisor di The New York Times sejak 1988 hingga 1990, lalu pindah ke Time Warner San Francisco sebagai National Marketing Support Manager dari 1990 sampai 1995.

Sekembalinya ke Indonesia, Daniel bergabung dengan Matari Advertising sebagai Business Director, dari Juni 1995 hingga Desember 2001. Setelah itu, manajemen The Jakarta Post mempercayakan posisi CEO kepadanya, mulai Januari 2006 hingga September 2011.

Kariernya tidak berhenti di sana. Ia kemudian bergabung dengan Berita Satu Media Holding sebagai Advisor to the Publisher sekaligus Commercial Director, dari November 2011 hingga Maret 2013, sambil turut mengawal pembentukan holding perusahaan media tersebut.

Belasan Tahun Membangun Jejak di PwC Indonesia

Sejak 2013, Daniel bergabung dengan PwC Indonesia, salah satu firma jasa profesional terbesar dunia yang menangani audit, pajak, dan konsultasi bisnis. Ia menjabat External Relations and Communications Director hingga 2020, lalu mengemban peran Advisor to TSP and G & PS Leader sekaligus Government Relations Director hingga akhir hayatnya.

Selama di PwC, Daniel aktif mendukung pengembangan bisnis dan hubungan pemerintahan perusahaan. Jaringannya yang luas di sektor publik maupun swasta menjadi modal utama dalam peran itu, termasuk keterlibatannya belakangan dalam pengembangan model bisnis untuk sejumlah inisiatif baru di firma tersebut.

Pendidikan dan Dedikasi sebagai Pengajar

Almarhum meraih gelar Bachelor of Management dari Universitas Indonesia, lalu melanjutkan MBA dengan konsentrasi Marketing dan Branding di University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

Di luar dunia korporasi, Danrem juga mengajar sebagai dosen di Universitas Indonesia. Ia menjalani peran itu sejak 27 tahun lalu hingga akhir hayatnya. Rentang waktu tersebut membuatnya menjadi sosok dihormati di dunia pendidikan tinggi, terutama pada bidang strategi digital, perencanaan bisnis, komunikasi korporat, dan strategi pemasaran.

Aktif di Berbagai Organisasi dan Lembaga Sosial

Danrem juga dikenal aktif berorganisasi. Sejak Januari 2015, ia menjabat Supervisory Board Member di Conversation Media Group. Sejak Januari 2025 hingga wafatnya, ia juga menjabat Member of Supervisory Board di IOA.

Ia turut mengabdi di Save the Children selama 4,5 tahun terakhir, dengan posisi terakhir sebagai Chair of the Board of Patron, dan menjadi anggota Industry Advisory Board Monash University Indonesia sejak hampir 3 tahun terakhir.

Di lingkungan profesi kehumasan, Daniel pernah dipercaya sebagai Dewan Pakar BPP Perhumas Indonesia. Ia juga pernah menjabat Secretary General di PERBINA, anggota Board of Advisor Public Affairs Forum Indonesia, dan anggota umum Berkeley Club Indonesia.

Selamat Jalan, Senior!

Komunikasi terakhir saya dengan almarhum terjadi saat kami saling mengirim ucapan Selamat Natal, pada Desember 2025 lalu. Pesannya sederhana namun hangat, seperti biasanya: “Selamat Natal… Kasih dan Damai beserta selalu…”

Dari sosok Om Danrem, saya belajar satu hal penting: waktu yang singkat bukan penghalang untuk meninggalkan kesan mendalam. Kehangatan komunikasi, ditambah kesediaan membantu saat dibutuhkan, justru yang paling membekas — meskipun banyak pertemuan terasa singkat.

James Carey dalam bukunya Communication as Culture (1989), membedakan dua cara memandang komunikasi. Pertama, komunikasi sekadar sarana transmisi informasi dari satu pihak ke pihak lain, atau Transmission View of Communication. Kedua, komunikasi sebagai ritual yang merawat kebersamaan lewat simbol dan budaya bersama, atau Ritual View of Communication. Kebiasaan kami berbahasa Manado dan bercanda ala Kawanua setiap bertemu adalah bentuk nyata dari pandangan kedua ini — bukan sekadar bertukar kabar, melainkan merawat identitas yang sama-sama kami miliki.

Kepergian beliau mengingatkan saya, hidup memang bisa berhenti kapan saja. Kenangan, sebaliknya, akan terus hidup lewat cara kita berkomunikasi dan memperlakukan sesama.

Terlepas dari kekurangannya sebagai manusia biasa, banyaknya ungkapan duka yang penuh kasih sudah cukup membuktikan satu hal: kesan baiklah yang beliau tinggalkan semasa hidup. Semoga ini menjadi penghiburan bagi istri, Ibu Lucita Rembeth, dan seluruh keluarga tercinta.

————————–
*Redaksi Sindomanado.com turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Om Daniel Rembeth. Selamat jalan, Om. Kami akan selalu mengenang bahasa Manado dan tawa yang selalu Om selipkan di setiap pertemuan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa menerima amal ibadah almarhum, dan memberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.