Bupati Minahasa Tenggara Kritik Kinerja ESDM Provinsi Sulawesi Utara

oleh -
James Sumendap, Bupati Minahasa Tenggara. (Foto: Istimewa)

MANAD-  Maraknya aktivitas tambang ilegal di sejumlah wilayah di Sulawesi Utara (Sulut) dituding lantaran lemahnya penindakan dari pihak terkait.

Bahkan, Bupati Minahasa Tenggara (Mitra) James Sumendap menuding Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan pembiaran sehingga pertambangan illegal makin menjadi.

Imbasnya, terjadi kerusakan lingkungan yang mengkhawatirkan. Bukan itu saja, tambang ilegal telah merenggut sejumlah nyawa di Desa Bakan, Kabupaten Bolmong.

“Aktivitas tambang ilegal sudah menjadi persoalan serius, terlebih menyangkut lingkungan. Selain itu saya juga khawatir musibah tambang yang terjadi di Boltim, akan terjadi di Mitra dan daerah pertambangan lainnya. Itulah kenapa saya terus mendesak Dinas ESDM Sulut untuk melakukan penertiban,” ujar Sumendap.

Akan tetapi, seruannya itu justru tidak diabaikan. Dia bahkan menyebut jika Kepala Dinas ESDM Sulut harus bertanggung jawab termasuk konsekuensi hukumnya.

“Kalau ini dibiarkan, Kadis ESDM Sulut harus dipenjara. Ini terkesan ada pembiaran padahal sudah melanggar hukum,” timpal Sumendap dengan nada tinggi.

Harusnya kata Sumendap, aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), wajib diawasi dan dilakukan penindakan cepat dari pemerintah provinsi.

“Pemerintah di kabupaten hanya melaporkan apa yang ada dilapangan. Dan itu sudah kami lakukan. Nyatanya sampai sekarang didiamkan saja dan belum ada penertiban,” sebutnya.

Selain itu, Sumendap turut menyinggung soal belasan PETI yang ada di Ratatotok. Di mana, aktivitas tersebut sudah jelas melakukan pengerusakan lingkungan. Karena sudah menggunakan alat berat, bahkan ada indikasi keberadaan Tenaga Kerja Asing (TKA).

“Ini negara apa, sudah jelas-jelas ada pengerusakan lingkungan. Tapi kenapa dibiarkan,” tegasnya

Adapun dikatakan Sumendap, pemerintah provinsi harusnya introspeksi. Karena sebetulnya aktivitas PETI sangat menghambat investasi. “Oknum yang terlibat harus penjarakan. Apalagi yang gunakan alat berat. Pihak berwenang harus usut tuntas dan penjarakan mereka,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Bach Tinungki saat dikonfirmasi membantah jika pihaknya melakukan pembiaran untuk aktivitas PETI.

“Saya pikir keliru kalau kami disebut lakukan pembiaran. Untuk PETI di Bakan, Bolmong ataupun di Ratatotok sebetulnya sudah beberapa kali dilakukan penertiban. Namun namanya juga pencuri, tentu mereka secara diam-diam kembali beroperasi, tanpa sepengetahuan kami,” beber Tinungki

Tak cuma itu, Tinungki turut menyebut, penertiban PETI bukan hanya semata tanggung jawab pihaknya. Melainkan penutupan PETI dilakukan tim terpadu.

“Untuk penertiban dilakukan tim terpadu. Itu terdiri polisi, kejaksaan, imigrasi, Kehutanan, lingkungan hidup, pempov dan pemkab,” jelas mantan Sekda Mitra itu.

Meski begitu, Tinungki dengan tegas bakal segera lakukan penutupan seluruh lokasi PETI. Dia memastikan bakal segera koordinasi dengan menggerakan tim terpadu tersebut. Karena selain mengancam lingkungan, PETI juga bisa membahayakan nyawa penambang sendiri.

“Kami akan tutup seluruh PETI mulai baik yang ada di Bolmong Raya, ataupun di Ratatotok. Dalam waktu dekat, akan koordinasi dengan tim terpadu supaya menutup seluruh PETI. Bahkan hingga lubangnya ditutup dan pelaku-pelakunya ditangkap,” janjinya.

Lebih spesifik Tinungki, turut menjeleaskan khusus PETI di Ratatotok ini, pihaknya sudah pernah mendapati adanya keberadaan TKA ilegal.

“Ini juga yang bakal kami buru. Baik investor asing hingga TKA ilegal bakal ditangkap,” terang Tinungki. (Marvel Pandaleke/KORAN SINDO MANADO)