Belum Miliki TPU, Biaya Pemakaman Warga Malalayang Satu Timur Capai Rp7 Juta

oleh -
Ilustrasi tempat pemakaman umum. (FOTO: Sindonews)

MANADO- Warga di Kelurahan Malalayang Satu Timur sudah lama mengidamkan hadirnya Tempat Pemakaman Umum (TPU). Pasalnya, hingga kini kelurahan yang dihuni ribuan jiwa tersebut tidak mempunyai lokasi khusus untuk pekuburan.

Julius Manginsihi, tokoh masyarakat di Malalayang Satu Timur mengaku sudah beberapa kali bermohon ke instansi terkait agar mendapatkan lahan itu. Namun hingga bertahun-tahun tidak kunjung terkabul.

“Usaha kami sudah cukup besar. Kami urus di sana-sini namun belum ada hasil. Justru kami hanya dibangunkan pasar yang sama sekali belum prioritas,” sesal Julius, Kamis (7/3/2019)

Menurut dia, warga di sekitar tempat tinggalnya harus membayar hingga Rp7 juta jika ada keluarga meninggal. Uang itu merupakan biaya pemakaman di area Kota Manado.

“Makanya setiap ada kedukaan, kami di majelis gereja kadang pusing. Tolonglah ini diperhatikan,” pintanya, dalam reses Ketua Komisi IV, Apriano Saerang.

Lurah Malalayang Satu Timur, Alfiane Oroh mengungkapkan, lahan pemakaman sudah lama menjadi permintaan warganya. Namun sejumlah kendala teknis terkadang menjadi penghalang.

“Banyak lahan kosong di Malalayang namun pembebasannya sulit dilakukan. Sebagian besar lahan di sini bermasalah,” bebernya.

Pihaknya, lanjut Lurah, bukannya berdiam diri. Pemerintah sudah berupaya mencari tempat dan merekomendasikan lokasi tanah yang berbatasan dengan Kelurahan Warembungan. “Di sana ada, namun kita akan usulkan ke pimpinan dulu,” jelas lurah.

Ketua Komisi IV DPRD Manado, Apriano Saerang, mengaku akan memperjuangkan keluhan warga Malalayang tersebut. Menurutnya, alokasi anggaran untuk lahan pekuburan sebenarnya sudah disetujui DPRD dan Pemkot. Namun, item tersebut beberapa kali hilang pada saat pembahasan di APBD. Kondisi itu karena biaya membayar tanah terbilang besar.

“Eksekusinya sebenarnya ada di eksekutif, namun saya berjanji akan mengawal ini habis-habisan agar masuk APBD hingga disahkan,” tegas politikus Gerindra itu.

Saerang juga berjanji akan menyuarakan permintaan warga yang menginginkan pemecah ombak di sepanjang Pantai Malalayang. Bahkan untuk mendukung ekonomi nelayan, dalam waktu dekat ini ia akan menyumbangkan satu perahu jenis katinting.

“Kalau perahunya sudah ada, kelola dengan baik. Jangan bertengkar,” pesan Saerang, yang disambut dengan tepuk tangan ratusan warga. (Alfrits Semen/KORAN SINDO MANADO)

 

 

Editor: Kim Tawaang