Sejarah Mencatat, Manado Kota Rukun Jadi Lokasi Favorit Pertemuan Bangsa Eropa dan Timur Tengah Sejak Abad 16

oleh -
Wali Kota Vicky Lumentut bersama jajaran saat mendeklarasikan Manado sebagai Kota Doa, belum lama ini. (ist)

MANADO — Kota Manado genap berusia 396 tahun pada Minggu, 14 Juli 2019. Menurut riwayat perkembangan sejarah Indonesia, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini telah dikenal dan didatangi orang-orang dari luar negeri sejak abad ke-16.

Tetapi momentum yang lebih banyak memiliki kesan-kesan historis dan terekam dalam dokumen negara, yakni pada abad ke–17 khususnya di tahun 1.623. Sebelum proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Manado merupakan pusat pemerintahan dari wilayah Keresidenan Manado yang pada waktu itu meliputi pulau Miangas (pulau paling utara di Sulut) sampai ke Kolonedale di Sulawesi Tengah.

Karena pengaruh situasi politik dan struktur pemerintahan, maka status Kota Manado dari masa ke masa mengalami perubahan. Mulai dari status Gemeente Manado hingga berstatus daerah Kota Manado. Momentum HUT ke-396 di bawah pemerintahan Wali Kota GS Vicky Lumentut dan Wakil Wali Kota Mor Bastiaan (GSVL-Mor), Manado menyabet segudang prestasi prestisius hingga kancah internasional.

Kota di beranda utara Negara Kesatuan Republik Indonesia kini bertransformasi menjadi kota paling toleran. Bahkan, momentum HUT kali ini, pemerintah bersama warga sepakat memberi tema ‘Torang Manado, Torang Rukun’.

Di bawah nakhoda GSVL-Mor penyelenggaran roda pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik terus ditingkatkan. Khususnya dalam pelayanan dasar yakni, pendidikan, kesehatan dan infrakstruktur yang kini dinikmati warga Manado. Bahkan lebih dari itu, warisan budaya yang kuat, dari pendahulu kita, yakni kehidupan rukun dan damai dalam keberagaman dan perbedaan, terus hidup dan terpelihara.

“Tema HUT ke-396 ‘Torang Manado, Torang Rukun’ adalah identitas kita bersama. Mengandung makna dan pesan, tentang sejarah Manado sejak dahulu kala, sebagai tempat yang ramah dan damai, sehingga menjadi tempat pertemuan masyarakat lokal maupun bangsa luar dari eropa, timur tengah dan asia, dalam urusan perdagangan, ekonomi dan diplomatik saat itu,” beber Wali Kota GSVL.

Dalam setiap kesempatan, wali kota dua periode itu terus mengajak masyarakat untuk hidup rukun dan damai. Menurut GSVL, Manado adalah miniatur Indonesia. “Budaya dan keseharian masyarakatnya yang hidup rukun lahir dari sebuah keberagaman dan perbedaan. Semua agama di Indonesia ada di Manado. Baik itu Kristen Protestan, Islam, Kristen Khatolik, Bhuda, Hindu dan Kong Hu Chu, kita hidup berdampingan, rukun dan damai di Manado sebagai rumah besar kita semua, dari berbagai latar belakang, suku, agama, budaya dan golongan,” terang Lumentut.

Wakil Wali Kota Mor Bastiaan menambahkan, momentum HUT ke-396, kiranya Manado yang kita cintai dan banggakan bersama bisa menjadi Kota Cerdas 2021 mendatang. “Selamat HUT ke-396, dari Manado terpancar cahaya toleransi di seluruh persada Nusantara. God Bless Kota Manado,” pungkasnya. (kimgerry)