Dua Siswa Terdakwa Pembunuhan Guru SMK Ichthus Diadili

oleh -
Dua terdakwa usai menjalani sidang. (FOTO: Ilona Piri)

MANADO— Sidang perdana kasus pembunuhan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ichthus, Almarhum Alexander Warupangkey digelar di Pengadilan Negeri (PN) Manado, Selasa (19/12/2019).

Keluarga korban yang turut hadir dalam persidangan tampak emosional saat dua terdakwa yakni FL,16 dan OU, 17, digiring dengan penjagaan ketat masuk ke ruang sidang. Keluarga korban meneriaki dua terdakwa “pembunuh”.

Dalam sidang yang digelar tertutup tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU), usai membacakan dakwaan, turut membawa lima orang saksi.

“Sidang berlangsung aman di dalam ruangan. Tadi penuntut umum ajukan lima saksi. Masih ada satu saksi,”  Imanuel Barru, hakim kasus tersebut.

Menurut Barru, mengacu pada pasal yang dikenakan, terdakwa bisa dihukum maksimal seumur hidup. Sekadar diketahui, saksi yang dihadirkan pada sidang adalah istri korban, satpam, guru, dan Kepala SMK Ichthus. Saat diwawancarai, Kepala SMK Katharina Lapagu mengatakan, dirinya berharap pelaku dihukum sesuai hukuman yang berlaku.

“Kami juga di sini sebagai korban, bukan hanya keluarga, karena imbas kasus ini sekolah kami dibekukan sementara. Banyak guru dan murid yang akhirnya kesulitan karena harus pindah sekolah, jadi kami memasrahkan semuanya pada putusan pengadilan,” terangnya.

Adik korban, Katrin Warupangkey turut meluapkan kekesalannya kepada terdakwa. Dia berharap terdakwa dihukum seberat-beratnya. “Ini kasusnya pembunuhan, biarpun mereka masuk golongan anak di bawah umur. Dilihat dari cara pembunuhan yang cukup sadis, kami keluarga masih belum terima,” terangnya.

Katrina mengaku kakaknya bukanlah pribadi yang kasar, kepergian korban menorehkan duka yang mendalam bagi keluarga. Ia mengatakan belum bisa terima kakaknya meninggal dengan cara demikian.

Sidang berakhir pada 17.00 WITA. Usai sidang dua terdakwa yang dikawal menuju mobil tahanan terus diteriaki pembunuh oleh keluarga korban. Beberapa berusaha mendekati terdakwa tapi berhasil dihalau tim kepolisian. (Ilona Piri)