Terseret hingga ke Laut, Oma 77 Tahun di Sangihe Selamat dari Amukan Air Bah

oleh -
Korban bencana Kampung Lebo mengungsi di GPdI Solagratia Lebo. (fFOTO: Andy Gansalangi)

Laporan : Koresponden Sangihe, Andy Gansalangi

HARI ketiga di 2020. Masih dalam suasana sukacita atas berkat dipertemukan di tahun yang baru. Hujan mengguyur lebat di Kabupaten Sangihe sejak pukul 02.00 WITA. Masyarakat tertidur lelap menanti sang fajar. Tapi nahas, sekira pukul 06.00 WITA, banjir bandang menghantam perkampungan Desa Lebo, Kecamatan Manganitu.

Masyarakat berhamburan lari kencang selamatkan diri. Namun derasnya banjir disertai material batu, kayu dan lumpur menyeret. Ada yang meninggal, ada yang tertimbun dalam tanah.

Tak disangka. Bagai mimpi buruk. Masyarakat benar-benar tidak siap.  Kepada SINDOMANADO.COM, Lorina Lahamendu, oma 77 tahun berkisah pengalamannya terseret banjir sampai ke laut. Beruntung ia selamat karena bisa memegang pohon, meski tenaganya sakit melawan derasnya banjir. Ia tetap berupaya menyelamatkan dirinya. Sampai akhirnya ditolong oleh warga. “Oma berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Puji Tuhan! Akhirnya Oma selamat,” ungkap Lorina, kemarin.

Dituturkan Valen Pebikirang, 13. Pelajar Kelas II SMP itu mengalami nasib tragis bersama ibunya Yulce Makawimbang, 50. Mereka juga terseret banjir bandang sampai ke laut, Valen menyelamatkan diri dengan meraih pohon. Sementara ibunya meraih batang pohon yang hanyut, keduanya berusaha menyelamatkan diri sampai akhirnya bantuan datang. “Saya bersama Mama pagi itu terbawa air sampai ke laut, saya ketakutan karena suara derasnya banjir. Saya melihat Mama juga terseret kami akhirnya selamat,” cerita Valen.

Sedangkan, Kingly Padang, balita yang baru berumur dua tahun juga menjadi korban bencana. Menurut cerita saudaranya, anak balita itu nyaris terseret beruntung mereka bergegas melarikan diri dari kepungan air bah, mereka menerobos air yang sementara mengalir untuk menyelamatkan diri.

Kepala Desa Lebo, Samson Muli mengatakan, saat banjir bandang itu ia bersama masyarakat lain langsung ke lokasi membantu masyarakat yang terjebak banjir dan melakukan pencarian korban. Tak hanya itu, ia mengkoordinasi para korban untuk diungsikan ke gedung GPdI Solagratia Lebo dan menghubungi pemerintah kabupaten.

“Kejadiannya pagi-pagi sekali. Saya ajak masyarakat untuk ke lokasi membantu korban banjir ternyata ada yang meninggal. Kami ungsikan para korban ke gereja setelah banjir mulai melemah kami berusaha mencari korban ada yang terseret ke laut dan ada yang meninggal, suasana kampung Lebo waktu itu sangat mencekam diselimuti tangis warga yang kehilangan sanak saudaranya,” ungkapnya.

Sementara, di Kampung Ulung Peliang  (Upel) Tamako, Hepinesty Olesa, 42, menceritakan kisah tragis yang hampir merengut nyawa keluarganya. Kata dia, sejak pukul 04.00 WITA, mereka diingatkan untuk mengungsi. Akhirnya tetangga yang masih kerabat dekatnya berkumpul di rumahnya, menjelang pukul enam pagi bau lumpur tercium setelah diperiksa ternyata air di bagian belakang rumah mulai naik disertai gemuruh seperti guntur menggelegar.

Mereka langsung berlarian ke arah gunung, jika terlambat lima menit mereka bisa terbawa oleh air bah yang mengalir deras. Sampai pukul dua siang mereka turun ke kampung dan mendapati rumah mereka sudah tidak ada lagi. “Beruntung kami cepat menyingkir kalau tidak pasti kami ada yang meninggal terseret banjir,” ucap dia di lokasi pengungsian di GMIST Imanuel Ulung Peliang.

Waktu kejadian di Upel, pemerintah kecamatan dan TNI/Polri memperingatkan masyarakat agar segera menyingkir dikarenakan debit air dan genangan air sudah mulai terlihat, padahal belum ada banjir sedahsyat itu terjadi di Upel,” kata Timotius Tatonto, Kepala Desa Upel.

Dalam kejadian ini, kepedulian sesama terlihat jelas. Bantuan tenaga, makanan, minuman bahkan kebutuhan lainnya di hari kejadian itu langsung berdatangan, termasuk dari Pemerintah Pusat melalui BNPB juga pemerintah Provinsi, termasuk TNI/Polri turut sepenanggungan atas bencana di Lebo dan Upel.

Terpantau, di lokasi bantuan sembako dan kebutuhan lainya masih terus mengalir dan di gudang penyimpanan menumpuk banyak bantuan dari masyarakat, swasta serta pemerintah.