Pentingnya Miliki Moral Pancasila, WAG Justitia Societas Undang Narasumber Berkompeten di Webkusi

oleh -
Stefan Obaja Voges. (FOTO: Sindomanado.com)

MANADO – Memiliki moral Pancasila haruslah dimiliki segenap Rakyat Indonesia dalam kehidupan sosial maupun bernegara. Hal itulah yang menjadi pedoman hidup ataupun tatanan kehidupan segenap rakyat Indonesia.

Melalui Webkusi yang digelar WhatsApp Group (WAG) Justitia Societas (JS) pada 2 Juni 2020, membahas tentang Masa Depan Pancasila.  Webkusi kali ini narasumber berkompeten yakni Reiner Ointoe yang tak lain Budayawan/Fiksiwan dan Jeffrey Delarue, seorang Tokoh Pemuda Pancasila Sulut.

Webkusi yang menjadi salah satu program dari WAG JS ini diikuti berbagai kalangan. Mulai dari praktisi, akademisi, maupun beberapa instansi dan kalangan media massa. Stefan Obadja Voges selaku admin WAG JS menjadi host dalam webkusi tersebut.

Reiner Ointeo memberikan beberapa poin penting terkait Pancasila. Dimana ia mengatakan Pancasila harus dilakukan terus-menerus dan di tengah pandemi Covid-19 ini Pancasila pun diuji. “Pandemi ini merupakan ujian sebenarnya kepada Pancasila, dimana tanpa langsung Pancasila sudah terkoreksi dengan adanya pandemi ini. Maka dari itu perlu adanya kritik pandemi yang harus selalu diangkat, untuk menghasilkan nilai yang berarti,”ucapnya.

Dirinya juga menyinggung dimana sila pertama dalam Pancasila belum sepenuhnya dilakukan. “Sila pertama dalam Pancasila masih mengalami problematik dalam kehidupan berbangsa, dengan masih banyaknya kasus yang ditimbulkan didalam agama, munculnya ajaran-ajaran yang menyimpang dan sekian banyak lainnya. Itu merupakan contoh bahwa Sila I masih harus dirumuskan kembali,”ucapnya.

Jeffrey Delarue juga menilai Pancasila bukan hanya sekadar dasar negara saja namun, Pancasila harus menjadi pandangan hidup dari kelangsungan hidup manusia itu sendiri. “Pancasila adalah nurani dari bangsa kita sendiri, Pancasila adalah fakta permanen dulu, sekarang dan selamanya. Nilai yang tumbuh berkembang dari leluhur kita dituangkan kedalam poin-poin Pancasila, maka dari itu Pancasila masih sangat dibutuhkan,”ucapnya.
Dirinya juga menyinggung soal pemipin yang kurang memiliki moral Pancasila, dimana banyak pemimpin tak melakukan nilai penting dari Pancasila.

“Di tengah pandemi ini, banyak pemimpin maupun anggota dewan yang lupa akan jiwa dari Pancasila itu. “Mereka” lupa akan nilai kemanusiaan yang ada dalam Pancasila, padahal pemimpin itu adalah seseorang yang mengerti akan nilai dalam Pancasila itu. Namun nyatanya, di tengah pandemi ini banyak muncul jiwa Pancasila dari berbagai kalangan yang bukan pemangku jabatan dan lainnya, hanya seorang yang memiliki jiwa Pancasila itu dan melakukan berbagai nilai kemanusiaan untuk sesama,”ujarnya.

Membangun Moral Pancasila haruslah mulai dari dasar kehidupan, diwaktu ini Pancasila hanya dikenal didalam teks maupun kurikulum yang ada di sekolah dan perguruan tinggi. Namun, mengerti tentang makna, nilai, jiwa dan arti dari Pancasila itu banyak yang tidak tau bahkan pun banyak yang tidak menghafalkannya. Maka dari itu pentingnya kurikulum yang mengatur tentang pembelajaran Pancasila dan bukan sekedar materi di tulisan saja namun makna nyata Moral Pancasila itu yang harus dibelajarkan.
Akademisi/Peneliti Kamajaya Al Katuuk juga memberikan pemahaman serta hasil surveinya, dimana ia melihat dari sisi milenial bahwa kebanyakan persepsi milenial tentang Pancasila diadopsi dari kurikulum saja.

Pemahaman dan kecintaan milenial terhadap Pancasila sangat kurang di kalangan ini. “Dari hasil penelitian di kalangan pengusaha muda sektor UMKM, mereka respect-nya terhadap negara itu rendah, dikarenakan respect negara kepada mereka juga itu rendah. Dari contoh ini, sebenarnya Pancasila itu sendiri harus dimengerti oleh negara. Kritis keteladanan dari pemimpin membuat Pancasila itu dikhawatirkan, karena negara yang didalamnya pemimpin belum dapat menunjukan jiwa Pancasila itu sendiri,”ucapnya.

Kaum milenial yang ke depannya akan menjadi pelari berikutnya, harus mengerti tentang Pancasila ini. Karena jika sekarang banyak kaum milenial tidak mengerti arti Pancasila ini, bagaimana dengan masa depan Pancasila itu sendiri? Apakah hanya jadi pajangan di depan kelas saja? Atau hanya jadi kata-kata yang wajib diingat namun tak mengerti dari Moral Pancasila itu sendiri?

Semua datang dari kita, untuk melakukan tindakan besar harus dimulai dari yang terkecil. Menjadikan bangsa ini kuat dan kokoh, pendahulu telah melakukan segala tindakan yang terkecil yaitu mulai dari mendidik moral manusia menjadi Moral yang ber-Pancasila kepada rakyat kecil. Sekarang, mulai dari mendidik diri sendiri.

Eka Prasetya Pancakarsa berarti tekad yang tunggal untuk melaksanakan lima kehendak yang kuat, yaitu kehendak untuk melaksanakan kelima sila Pancasila, dengan kata lain yaitu satu pernyataan setia terhadap lima keinginan. (Clay Lalamentik)