Pascaledakan, Demonstrasi Meluas di Lebanon, Keterlibatan Asing Diselidiki

oleh -
Kodisi Beirut, Ibu Kota Lebanon, yang hancur setelah ledakan dahsyat terjadi Selasa (4/8/2020) malam. (FOTO:/REUTERS)

BEIRUT – Bentrokan pengunjuk rasa antipemerintah dengan pasukan keamanan Lebanon terus meluas di Lebanon, Jumat (8/8/2020). Mereka menunjukkan kemarahan atas kelalaian pemerintah yang menyebabkan ledakan dahsyat dan menewaskan ratusan orang.

Para pengunjuk rasa marah dengan ledakan dahsyat hari Selasa yang menurut para pejabat disebabkan oleh 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan secara tidak aman sejak 2013. Banyak orang di Lebanon mengatakan kelalaian pemerintah menyebabkan ledakan yang menewaskan sedikitnya 154 orang dan melukai sekitar 5.000 lainnya.

Demonstrasi mulai berlangsung sejak Kamis (6/8) malam hingga kemarin. Aparat keamanan bertindak tegas dengan menembakkan gas air mata yang menyebabkan banyak demonstran terluka. Itu juga dikarenakan para demonstran membakar ban dan melemparkan batu ke arah petugas keamanan. Titik utama demonstrasi berlangsung di gedung parlemen.

Demonstrasi tersebut terus meluas karena propaganda yang meluas di media sosial. Sebenarnya aksi demikian sudah biasa terjadi. Demonstrasi di Lebanon kerap dilakukan masyarakat sejak Oktober lalu karena krisis ekonomi dan diperparah pandemi virus korona.

Hakim Fadi Akiki, perwakilan pemerintah di pengadilan militer, mengatakan lebih dari 18 petugas pelabuhan dan bea cukai serta pekerja pemeliharaan di gudang telah diperiksa. Pemerintah Lebanon mengumumkan sedikitnya 17 orang, termasuk manajer pelabuhan, telah ditangkap untuk diadili.

Sementara itu Pemerintah Lebanon menetapkan keadaan darurat di Beirut selama dua minggu di tengah meningkatnya korban dalam bencana yang disebut Presiden Michel Aoun sebagai “malapetaka yang sulit digambarkan dengan kata-kata” ini. Dewan Pertahanan Tertinggi Lebanon dengan keras menyatakan bahwa mereka yang bertanggung jawab atas ledakan itu akan menghadapi “hukuman maksimum”.

Presiden Aoun mengungkapkan, penyelidikan bukan hanya fokus mengungkapkan faktor internal di dalam negeri Lebanon semata. Para penyelidik juga akan fokus untuk melihat adanya intervensi asing yang mungkin bisa menjadi penyebab ledakan tersebut.

“Penyebab ledakan belum dapat ditentukan. Ada kemungkinan intervensi asing dengan serangan roket atau bom atau tindakan lain,” kata Presiden Aoun seperti dilansir Reuters.

Dia mengungkapkan, penyelidikan ledakan gudang bahan material peledak itu dilakukan pada tiga tingkatan. Pertama, bagaimana material peledak bisa masuk dan disimpan. Kedua, apakah ledakan merupakan hasil dari kecelakaan. Dan ketiga, adanya kemungkinan intervensi asing.

Sebelumnya banyak pihak menduga Israel ikut mendalangi ledakan di Beirut. Israel dan Lebanon memang terlibat konflik sejak lama. Apalagi PM Israel Benjamin Netanyahu kerap melancarkan ancaman kepada kelompok Hezbollah yang menjadi elemen kuat di Lebanon. Maklum, bahan peledak di pelabuhan tersebut memang milik Hezbollah. Namun pejabat senior Hezbollah menyatakan rumor serangan Israel ke pelabuhan tersebut tidak benar. Menteri Luar Negeri Israel Gabi Gabi Ashkenazi pun mengindikasikan Israel tidak terlibat.

Analis Lebanon David Daoud mengungkapkan, Israel tidak memiliki kepentingan meningkatkan ketegangan saat ini. “Saya skeptis itu adalah serangan udara. Kita tahu aturan perang Israel dan Hezbollah. Jika Israel yang melakukan serangan itu, pasti ada deklarasi perang dari Hezbollah,” katanya. (Koran Sindo)