Gagal Tangani Pandemi Korona, Australia Masuki Fase Paling Mematikan

oleh -
(Ilustrasi: Istimewa)

SYDNEY – Victoria, negara bagian paling padat di Australia, dilaporkan mengalami hari paling mematikan pada pandemi virus korona Minggu (9/8/2020), di mana 17 orang meninggal dunia. Saat bersamaan, polisi juga mencoba menghalau massa yang berdemonstrasi menyuarakan seruan anti-masker di Melbourne.

Victoria merupakan pusat gelombang kedua pandemi korona di Australia di mana 394 kasus virus korona dalam 24 jam terakhir. Itu mengalami stagnasi di mana rata-rata infeksi mencapai 400-500 kasus pada pekan lalu. Jumlah korban meninggal akibat Covid-19 telah mencapai 210 orang. Pusat pandemi berkonsentrasi di Melbourne. Jumlah kasus pasien yang terinfeksi virus korona secara nasional di Australia telah mencapai lebih dari 21.000 dan jumlah korban meninggal mencapai 295 orang.

Dalam rangka menekan penyebaran virus korona, Victoria telah memberlakukan jam malam, membatasi pergerakan masyarakat dan menutup sebagian besar bisnis. “Meskipun berbagai langkah telah ditetapkan, situasi tetap beresiko. Kasus yang belum diketahui asalnya terus meningkat,”kata Perdana Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, dilansir Reuters.

Victoria melaporkan, 174 kasus “misteri” dalam 24 ham terakhir. Andrew mengungkapkan, meskipun sebagian besar jumlah kasus korona telah diektahui, namun otoritas belum mengetahui dari mana asalnya. “Itu menjadi tantangan terberat dari sudut pandang pencegahan,” katanya.

Penularan virus korona di Victoria umumnya menyerang satu orang. Sedangkan orang ketiga dan keempat perlu dilacak dari siapa mereka tertular. “Kita melihat jumlah akan menurun setelah bisa diatasi,” kata Andrew. Namun, hal itu memerlukan waktu. Polisi Victoria juga menghalau demonstrasi anti-masker bertajuk Perayaan Hari Kebebasan di Melbourne. Mereka menangkap tujuh orang dan memberlakukan denda kepada 27 orang.

Sementara itu, PM Inggris Boris Johnson justru menyatakan pembukaan sekolah harus dilaksanakan pada September mendatang di tengah ancaman pandemi. Dia mengatakan, sekolah tetap beroperasi dengan aman.  Komentar Johnson itu setelah sebuah kajian menyatakan Inggris masih beresiko menghadapi gelombang kedua pandemi virus korona pada musim dingin nanti dengan jumlah warga yang terinfeksi bisa lebih besar.

Namun, Johnson tetap bersikeras pembukaan kembali sekolah sebagai prioritas utamanya. “Sekolah akan menjadi tempat terakhir yang ditutup ketika ada lockdown lokal,” katanya. Sekolah di Inggris telah ditutup sejak MAret lalu karena lockdown nasional. “Menjaga sekolah tutup merupakan hal yang tidak bisa diterima karena menunjukkan tidak bertoleransi sosial, ekonomi tidak berkelanjutan, dan moral yang tak bisa dipertahankan,” katanya.

Pembukaan sekolah juga dilakukan di Brasil di saat jumlah korban meninggal akibat korona telah mencapai 100.000 orang. “Kita seharusnya hidup dalam keputusasaan, karena tragedi ini seperti perang dunia. Tapi, Brasil seperti mengalami anestesia kolektif,” kata Jose Davi Urbaez, anggota senior Masyarakat Penyakit Infeksi.

Urbaez mengungkapkan, Brasil tidak memiliki rencana dan koordinasi dalam memerangi pandemi. Itu dibuktikan dengan banyak petugas yang fokus pada pembukaan kembali bisnis dan sekolah di tengah penyebaran virus korona yang semakin luas.

Kementerian Kesehatan Brasil melaporkan, 49.970 kasus baru dan 905 kematian dalam 24 jam terakhir. Itu menyebabkan jumlah kasus di Brasil telah mencapai lebih dari tiga juta dan korban meninggal mencapai 100.477 orang.

Saat virus korona semakin mengganas di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump tetap bersikukuh tetap akan membuka sekolah dan menghidupkan kembali bisnis. Tapi, jumlah kasus virus korona telah mencapai lebih dari lima juta kasus. Jadi, satu dari 66 penduduk AS telah terinfeksi. “AS memimpin dalam perolehan jumlah kasus virus korona,” demikian analisis Reuters. Jumlah korban meninggal dunia telah mencapai lebih dari 160.000 orang atau hampir seperempat dari total jumlah korban tewas.

Namun demikian, Trump tetap yakin bahwa AS akan memiliki vaksin korona sebelum pemilu presiden pada 3 November mendatang. Sedangkan pakar penyakit menular AS, Anthony Fauci, menyatakan sedikitnya hanya ada satu vaksin yang aman pada akhir tahun ini. (Koran Sindo)