Kepala Daerah Meninggal Karena Korona, Tanda Awas bagi Pejabat di Sulawesi Utara

oleh -
(Ilustrasi: Istimewa)

MANADO– Para pejabat hingga pimpinan daerah yang ada di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) diimbau untuk tak henti-hentinya menerapkan protokol kesehatan dalam upaya pencegahan dan pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ketika melaksanakan aktivitas dan pelayanan kepada masyarakat. Padatnya kegiatan dan mobilitas kerja kiranya dibarengi dengan kedisiplinan  mengikuti protokol kesehatan.

Senin (10/8/2020), Wali Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, yakni Nadjmi Adhani meninggal dunia setelah dinyatakan positif Covid-19 dan sempat mendapatkan perawatan selama dua minggu. Kondisinya sempat turun naik, sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir di usia 50 tahun, dini hari kemarin. Jenazah disalatkan di halaman gedung instalasi pemulasaran jenazah RSUD Ulin Banjarmasin, kemarin pagi. Salat jenazah diimani Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

Wakil Direktur Pelayanan Medik RSUD Ulin Banjarmasin Awong Wibowo menjelaskan, selama dirawat kondisi kesehatan almarhum sempat membaik. Namun sehari sebelumnya kembali menurun. “Almarhum sempat mengalami disaturasi atau penurunan kadar oksigen hingga empat puluh persen,” ujar Awong.Usai disalatkan jenazah kemudian langsung dibawa ke Banjarbaru untuk dimakamkan di Taman Bahagia, Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Melihat hal itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Manado, dr Ventje Kawengian, para pejabat, utamanya pimpinan daerah yang dipilih oleh masyarakat, harus betul-betul waspada, sebab penyakit ini tak memandang bulu, mulai dari masyarakat biasa hingga top eksekutif pun, siapa saja bisa terjangkit virus korona ini. “Apalagi kasus yang barusan Wali Kota (Banjarbaru) ini. Kita semuanya harus lebih waspada, karena pejabat juga sama. Pejabat itu bukan berarti bahwa dengan tempatnya dikantor yang serba ber-AC, serba tertutup, lantas dia harus longgar dengan tak pakai masker maupun jaga jarak,” ungkap dr Ventje kepada wartawan KORAN SINDO MANADO/SINDOMANADO.COM, kemarin.

Lanjut dikatakan dia, semua protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 seperti jaga jarak, pakai masker hingga cuci tangan itu harus terus dilaksanakan, sebab hal itu merupakan himbauan juga dari organisasi kesehatan dunia, WHO. “Jadi kita harus ikuti itu dia (Imbauan WHO),” bebernya.

“Ini masalah yang mendasar. Dari awal sudah diingatkan bahwa jangan lupa protokol kesehatan. WHO berketetapan bahwa physical distancing atau jaga jarak, masker, itu tetap dilaksanakan. Bukan berarti sekarang istilahnya sudah sekian lama, lantas ada pencegahan yang baru, tidak, tetap yang lama yang sudah diingatkan itu harus tetap dijaga,” jelas dokter spesialis penyakit dalam ini.

Dirinya juga menuturkan bahwa WHO telah mengingatkan terkait keadaan saat ini, dimana penyebaran virus yang awalnya ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019 lalu ini mudah sekali menular di tempat-tempat yang ramai dengan lalu lalang orang.

“Karena ini kan dia sudah lewat udara, pada tempat-tempat yang padat, ramai, yang tertutup, yang sirkulasi udaranya kurang bagus. Jadi tetap dijaga (pelaksanaan protokol pencegahan Covid-19). Jangan sampai ruangan di kantor yang sudah ber-AC, tidak ada ventilasi, kita lengah di keadaan-keadaan begitu,” tukasnya.

Dokter yang diketahui merawat pasien Covid-19 di RSUP Prof Kandou ini juga meminta agar masyarakat, termasuk para pejabat, yang mempunyai penyakit-penyakit dasar atau penyakit bawaan yang sudah kronis, ataupun harus memakai obat secara rutin, seperti gula, darah tinggi, ataupun sudah pernah terkena stroke. “Pejabat kan banyak yang darah tinggi, banyak yang sudah pasang ring (Di Jantung), justru dengan adanya penyakit-penyakit dasar ini, harus lebih waspada daripada orang-orang yang tidak ada sakit-sakit dasar seperti ini,” pungkas dr Ventje.

Dengan adanya penyakit dasar ini, ucapnya, maka dr Ventje mengharapkan agar lebih rutin melakukan kontrol. “Jangan sampai karena takut keluar rumah, obat-obat rutin yang dipakai, lupa kontrol ke dokter atau ke rumah sakit yang biasa dia periksa,” tutupnya. (Fernando rumetor)