Bacada ‘Kuras Otak’ Jawab 565 Soal, Olly-Steven Sebut Sudah Pengalaman

oleh -
Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut, Olly Dondokambey-Steven Kandouw usai mengikuti tes kesehatan dan narkoba di RSUP Kandou. (Istimewa)

MANADO – Bakal calon kepala daerah (Bacada) dan wakilnya baik gubernur, bupati dan wali kota di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengikuti tahapan tes psikologi dan narkoba di RSUP Prof Kandou Manado, Senin (7/9/2020).

Para calon kepala daerah tersebut harus mengerjakan sekira 565 soal psikotes dengan metode MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory).

Bakal calon Gubernur Sulut, Olly Dondokambey mengatakan, psikotes dengan ratusan soal tersebut dapat dijawabnya dengan baik.

“Itu MMPI tes. Jadi ada lembaran pertanyaan yang harus diisi, lalu disesuaikan dengan pertanyaan yang diberikan kepada kami dengan waktu selama 1,5 jam. Tes seperti ini sudah saya ikuti waktu maju pilkada lalu,” ungkap Olly.

Hal yang sama disampaikan bakal calon Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw. Mantan Ketua DPRD Sulut ini menyebut, sudah kesekian kalinya mengikuti tahapan tes psikologi dan narkoba.

“Kalau soal tes aman, sudah pengalaman. Kalau saya pribadi sudah tiga kali ikuti tahapan ini. Mungkin yang lain baru satu kali,” bebernya.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulut, Salman Saelangi menjelaskan, tahapan tes kesehatan ini selama lima hari, dari tanggal 7-11 September.

“Nanti, tanggal 12 September akan ada hasil yang diberikan oleh tim dokter. Itu juga akan diberikan ke masing-masing bakal calon,” tuturnya.

“Syarat sehat jasmani dan rohani itu kan ada dalam persyaratan, sehingga syarat tes kesehatan itu menjadi syarat mutlak bagi bakal calon bersama syarat lain untuk ditetapkan sebagai calon kepala daerah nantinya,” papar Salman.

Menurutnya, semua pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh pasangan bakal calon kepala daerah itu nantinya akan dianalisis oleh tim dokter, sehingga KPU akan menunggu kesimpulan analisisnya.

“Dari hasil kesimpulan itu, dapat diketahui apakah pasangan bakal calon kepala daerah yang maju dalam pilkada dinyatakan sehat atau tidak. Jika memang hasilnya tidak sehat, maka calon kepala daerah yang bersangkutan tidak bisa ditetapkan sebagai calon kepala daerah,” tandasnya. (rivco tololiu)