Kenyamanan Psikologis (Bagian 1)

oleh -
Penulis: Dr. Preysi S. Siby, M.Si. (Istimewa)

“The life of inner peace, being harmonious and without stress, is the easiest type of existence.” —Norman Vincent Peale

Situasi dan kondisi kehidupan yang kita ada didalamnya bukanlah suatu hal yang dapat kita kendalikan seutuhnya. Tidak semua rencana sesuai dengan apa yang terjadi, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan. Padahal dalam menjalani kehidupan ini, kita memerlukan kenyamanan dalam menjaga kesehatan mental kita. Terlebih untuk menjalankan peran kita sebagai makhluk sosial dalam menjalin relasi sosial.

Kenyamanan berkaitan dengan segala sesuatu yang berkontribusi pada kesejahteraan dan kenyamanan aspek material kehidupan; dengan demikian ini merupakan perbaikan kondisi kehidupan di ruang berpenghuni/lingkungan tempat kita berinteraksi.

Istilah “kenyamanan” berasal dari bahasa Latin “confortare” yang berarti “menjadi kuat, nyaman, atau mendorong.” Dalam kamus linguistik, istilah ini adalah sinonim dari “kesejahteraan”, dan didefinisikan sebagai bantuan dan pelipur lara pada saat-saat penderitaan. Karya Morse dan Kolcaba diakui secara luas di antara berbagai teori yang menganalisis tema kenyamanan.

Morse mendefinisikan kenyamanan sebagai hasil dari intervensi keperawatan terapeutik dan menggarisbawahi gagasan kenyamanan sebagai proses yang melekat dalam tindakan menghibur. Studi Kolcaba telah didasarkan pada teori kenyamanan yang terkenal, di mana penulis mengoperasionalkan konsep dan mendefinisikannya sebagai “keadaan langsung yang diperkuat dengan memiliki kebutuhan akan bantuan, kemudahan, dan transendensi yang ditangani dalam empat konteks pengalaman manusia holistik: fisik, psikospiritual, sosiokultural, dan lingkungan”.

Konsep kenyamanan juga hadir dalam studi ahli teori keperawatan lainnya, seperti Ida Jean Orlando (yang studinya mendefinisikan kenyamanan sebagai respons terhadap kebutuhan manusia), Sister Callista Roy (yang menekankan pentingnya kenyamanan psikologis), Madeleine Leininger dan Jean Watson (yang mempertahankan kenyamanan sebagai hal yang esensial untuk proses perawatan), dan Hildegard Peplau (yang mempertahankan kenyamanan sebagai kebutuhan mendasar manusia yang terkait dengan makanan, istirahat, tidur dan komunikasi). Banyak literatur yang mencoba untuk mengkonseptualisasikan kenyamanan, kebanyakan berasal dari ranah perawatan kesehatan tapi juga ada dari berbagai disiplin ilmu. (bersambung)