MANADO — Realisasi investasi Triwulan I 2026 di Sulawesi Utara tercatat sebesar Rp2,13 triliun, masih berada di bawah rata-rata capaian Q1 sebesar Rp2,44 triliun.

Sementara itu, target investasi 2026 ditetapkan sebesar Rp12,1 triliun, naik 19,8 persen dari realisasi 2025 yang sebesar Rp10,1 triliun.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menyebut kondisi ini memerlukan langkah nyata dari semua pihak.

“Investasi dan Konsumsi Pemerintah Sulut menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil, tetapi masih di bawah nasional sehingga memerlukan akselerasi lebih,” ujar Joko, Kamis (21/5/2026).

Ia menambahkan bahwa penurunan pagu Transfer ke Daerah (TKDD) turut mempersempit ruang gerak fiskal daerah. Pagu TKDD Sulawesi Utara tercatat turun dari Rp13,73 triliun pada 2024 menjadi Rp10,93 triliun pada 2026.

“Penurunan pagu TKDD Sulawesi Utara mencerminkan makin terbatasnya ruang fiskal daerah dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah, sehingga dibutuhkan penguatan investasi sebagai sumber pembiayaan inovatif,” kata Joko.

Pertumbuhan ekonomi Sulut pada Q1 2026 tercatat 2,28 persen, jauh di bawah nasional 5,96 persen. Realisasi investasi Sulut tumbuh 7,89 persen, sementara nasional mencapai 21,81 persen.

Joko menegaskan bahwa peningkatan target investasi 2026 harus direspons dengan memperkuat investasi sebagai motor pertumbuhan daerah.

“Peningkatan target investasi Sulut 2026 mencerminkan ekspektasi penguatan investasi sebagai motor pertumbuhan daerah,” tegasnya.

Untuk itu, Bank Indonesia Sulut mendorong tiga agenda akselerasi, yakni penguatan ketahanan fiskal daerah melalui optimalisasi PAD dan digitalisasi.

Kemudian sinergi pusat-daerah dalam transmisi program strategis, serta peningkatan kualitas investasi melalui akselerasi pada area nilai tambah tinggi seperti KEK, Kawasan Berikat, optimalisasi KPBU, dan BUMN/BUMD. (nando)