MANADO — Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara melalui Regional Investment Relations Unit (RIRU) Sulut menyiapkan tiga program kerja pada Juni 2026 sebagai strategi akselerasi investasi daerah.
Ketiga program itu adalah Capacity Building RIRU (10–12 Juni), Klinik Investasi (20–26 Juni), dan North Sulawesi Investment Challenge (15–26 Juni 2026).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menjelaskan bahwa program-program ini dirancang untuk menjawab hambatan nyata investasi di Sulawesi Utara.
“Hambatan yang kita hadapi meliputi keterbatasan proyek investment-ready, konversi minat investor yang belum optimal, serta kesiapan infrastruktur kawasan investasi yang belum merata,” ujar Joko, dalam kegiatan Dedicated Team Meeting (DTM) Sulut 2026 di Manado, Kamis (21/5/2026).
Joko menyebut ketiga program tersebut masing-masing menyasar hambatan itu secara langsung.
Capacity Building RIRU berfokus pada penguatan kapasitas DPMPTSP sebagai koordinator proyek investasi, peningkatan kesiapan substansi proyek, serta dukungan pemetaan dan identifikasi proyek prioritas daerah.
Klinik Investasi menyediakan konsultasi teknis dan regulasi proyek, pendampingan penyelesaian isu investasi, serta percepatan kesiapan teknis dan regulasi proyek.
Sementara North Sulawesi Investment Challenge difokuskan pada kurasi proyek unggulan yang clean and clear, pendampingan substansi, legal, dan feasibility study aspek keuangan, serta penjajakan proyek kepada investor potensial.
Joko juga menekankan pentingnya penyelarasan prioritas investasi Sulut dengan arah nasional.
Mencermati arah prioritisasi sektor oleh Danantara dan BKPM, ia menyebut refocusing RIRU Sulut diperlukan pada sektor Hilirisasi, Ketahanan Pangan & Agroindustri, Energi Terbarukan, dan Kesehatan.
“Diperlukan refocusing prioritasi investasi pada proyek yang sesuai dengan roadmap investasi BKPM dan sektor prioritas Danantara,” kata Joko.
Ia juga mendorong penguatan upaya debottlenecking kendala struktural, khususnya proses perizinan dan RUPTL untuk proyek energi terbarukan, serta penguatan mekanisme pelaporan pasca promosi investasi yang lengkap, terstruktur, dan terintegrasi.
“Realisasi investasi Triwulan I 2026 masih berada di bawah rata-rata Q1 sehingga diperlukan upaya mengurai bottleneck untuk mengejar realisasi target tahunan,” pungkas Joko. (nando)


Tinggalkan Balasan