Rebut Pasar TikTok, YouTube Rilis Shorts

oleh -
(FOTO: Istimewa)

NEW YORK – Potensi bisnis video pendek yang digarap TikTok memang begitu menggiurkan. Karena itu, di tengah kegoncangan yang dialami perusahaan asal China tersebut akibat tekanan pemerintahan Donald Trump, YouTube mengeluarkan aplikasi senada, Youtube Shorts, demi merebut pasar TikTok.

Bukan hanya YouTube, tahun lalu, Facebook meluncurkan aplikasi baru bernama Lasso untuk menyaingi TikTok dan memecah pasar. Aplikasi itu juga bekerja sama dengan label papan atas India untuk memperoleh izin menggunakan musik mereka dalam video, pesan, stories dan konten kreatif lainnya di Facebook dan Instargram.

Perilisian YouTube Shorts bertepatan dengan tenggat waktu penenentuan operasi TikTok di AS mengingat TikTok masuk daftar hitam pemerintah, apakah akan dijual, dipindah, atau dicabut.Hal ini  terjadi karena  TikTok dituduh pemerintah AS telah memanen data warga AS dari China.

Belakangan ini, Oracle dikabarkan memenangi persaingan pembelian TikTok dengan Microsoft, tapi bersifat kemitraan, bukan akuisisi. Potensi keluarnya TikTok dari pasar AS masih besar. Atas kondisi itu, sejumlah perusahaan pesaing mulai bersiap mengambil alih pasar yang ditinggalkan TikTok dengan menciptakan aplikasi video-pendek. Selain  YouTube dan Facebook,  Instagram dan Snapchat juga telah menyiapkannya sejak tahun lalu. Begitupun dengan Triller, Dubsmash, dan Byte.

Bagaimana YouTube akan menyaingi TikTok? Dengan fitur yang mirip, tapi teknologi dan perpustakaan musik yang berbeda, YouTube berharap akan dapat tumbuh sangat cepat dalam waktu singkat. Para pengguna YouTube Shorts akan dapat mengunggah video kurang dari 15 detik menggunakan musik yang disediakan YouTube. Selain itu, YouTube Shorts dilengkapi kamera multi-segmen.

Kamera multi-segmen digunakan untuk mengombinasikan beberapa klip video menjadi satu klip video. Fitur itu juga sudah lama digunakan TikTok dan Reels. Fitur YouTube Shorts lainnya seperti speed control, timer, dan countdown disediakkan agar pengguna lebih kreatif dalam memproduksi video dibandingkan hanya memencet tombol “rekam”.

Sejauh ini, YouTube masih melakukan uji coba pasar dengan hanya merilis YouTube Shorts sebagai aplikasi tunggal di India, salah satu pasar terbesar TikTok. Jika mengalami pertumbuhan positif dan prospek yang cerah, YouTube kemungkinan besar akan merilisnya ke seluruh dunia. Sebelumnya, fitur ini hanya ada dan menyatu di aplikasi YouTube.

Sejak awal tahun ini, YouTube telah melakukan uji coba pengembangan aplikasi video pendek di Android dan iOS. Fitur itu kini diterapkan di aplikasi YouTube sebelum nantinya dipisahkan sebagai aplikasi tunggal. YouTube juga telah menjalin kerja sama dengan para musisi, label, dan publisher untuk memperkaya perpustakaan musik mereka.

Sebagai informasi,TikTok memiliki sekitar 100 juta pengguna di AS dan ditawar USD40-50 miliar oleh Microsoft dan Oracle. Keduanya mengincar TikTok yang beroperasi di AS, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Secara keseluruhan, aplikasi yang diluncurkan di China pada 2016 itu memiliki sekitar 690 juta pengguna aktif pada Juli.

TikTok berhasil memuncaki pemeringkatan unduhan dunia dan menyingkirkan dominasi Facebook, Instagram, YouTube, dan Snapchat. Hingga saat ini, TikTok telah diunduh sebanyak dua miliar kali, baik di App Store maupun Google Play. Unduhan tersebut meliputi TikTok versi Lite dan variasi lainnya. TikTok mengalami perkembangan positif tahun lalu, yakni 663 juta unduhan. Sebagai perbandingan, Facebook diunduh 711 juta dan Instagram 444 juta. TikTok kini menjadi aplikasi non-game keempat paling banyak diunduh di dunia pada 2018 dan aplikasi non-game paling banyak diunduh di AS pada awal 2019.

Sekira 20% dari unduhan TikTok atau 250 juta berasal dari India. Di negara itu, jumlah pengguna TikTok terus mengalami pertumbuhan. Pada Januari, jumlah pengguna baru TikTok di India mencapai sekitar 43% atau bertambah 71,3 juta, naik 33,5% dibanding Januari 2018. TikTok juga mengalami peningkatan di AS.

TikTok menyadari India merupakan kunci kompetisi bisnis di antara perusahaan media sosial dan menanamkan investasi senilai USD1 miliar tahun ini. Mereka juga berencana menambah karyawan menjadi 1.000 orang dan mulai memonetisasi operasinya hingga disasar Pepsi, Snapdeal, Myntra, dan Shaadi.com.

Meski TikTok unggul dalam unduhan global, pangsa pasarnya masih lebih kecil dibanding Facebook. Para ahli menilai Facebook tidak terancam karena TikTok hanya platform video pendek. “Namun, Facebook perlu menguasai India jika ingin dominan. India memegang peran besar,” ujar analis data Sensor Tower Sanders Tran. (Koran Sindo)