LPPM Unsrat Menggelar Literasi Media Digital, Ajak Kaum Muda Bijak Bermedia Sosial

oleh
Foto bersama usai pelaksanaan literasi media digital. (FOTO:Istimewa)

MANADO — Media sosial telah menjadi teman bagi sebagian orang di era kini. Sangat mustahil jika seseorang yang memiliki smartphone, tidak memiliki media sosial (medsos), seperti Facebook, Instagram, ataupun Twitter. Malah banyak dari sebagian pemilik smartphone tersebut telah menghabiskan waktunya untuk menonton Youtube dan sejenisnya yang juga masuk kategori medsos.

Medsos memiliki banyak kelebihan seperti mendekatkan orang­-orang yang jauh dengan kita, mempertemukan orang-orang yang sekian waktu tidak pernah bisa ditemui. Bisa dijadikan ajang bisnis yakni berjualan online. Meski banyak yang positif di dalamnya, namun ada saja hal negatif yang terjadi ketika menggunakan medsos, seperti praktik penipuan, transaksi seks, perjudian, ujaran kebencian, bahkan terus beredarnya misinformasi dan disinformasi atau yang biasa orang awam sebut hoaks. Melihat fenomena yang marak tersebut, ada upaya dari akademisi Universitas Sam Ratulangi untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat (PKM) berupa pelatihan atau penyebaran informasi mengenai bijak bermedia sosial di kalangan pemuda dan remaja di Kelurahan Sario, Kota Manado. Kegiatan tersebut diprakarsai Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unsrat melalui Leviane Jackelin H. Lotulung dan Anita Runtuwene.

Tampak suasana kegiatan yang diprakarsai LPPM Unsrat. (FOTO: Istimewa)

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua LPPM Kelurahan Sario Iwan J.S. Ngadiman, Kamis (29/10/2020) pekan lalu. Para pemuda dan remaja yang hadir cukup antusias karena sebelumnya tidak pernah dilakukan kegiatan sejenis. Mereka menyadari bahwa kejahatan digital sangat marak akhir­akhir ini dan mereka merasa senang dengan kegiatan yang dilakukan.

“Sebaiknya kegiatan sejenis terus dilakukan secara berkala pada kami, pemuda remaja,“ kata Doddy Rakian. Literasi media digital memang harus terus dilakukan di semua kalangan, karena banjirnya informasi apalagi ketika pandemi covid­19 serta digelarnya Pilkada serentak 2020 di Indonesia. “Jangan sampai karena salah dalam memberi komentar pada sebuah status, akhirnya berujung pada masalah hukum, seperti kasus musisi sekaligus politisi Ahmad Dhani,” papar Lotulung dalam memberi penjelasan. Hal berbeda diceritakan Runtuwene.

Dijelaskannya, kasus pembuatan akun palsu guna menjelekkan nama baik seseorang juga semakin marak. Tidak hanya terjadi di kalangan selebritis tapi juga sudah merambah di kalangan orang biasa. “Hal itu terjadi karena pengetahuan masyarakat semakin baik pada
teknologi tapi sayangnya dengan tujuan yang tidak baik demi ingin menjatuhkan nama baik seseorang dengan motif sakit hati, percintaan, dan kecemburuan,” tandasnya. (Fernando Rumetor/*)