GM Bandara Sam Ratulangi Manado Minggus Gandeguai: Saya Yakin Badai Pasti Berlalu

oleh -
General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Sam Ratulangi Manado, Minggus E.T Gandeguai (Kemeja Putih) saat diwawancarai wartawan KORAN SINDO MANADO di ruang kerjanya, kemarin. (FOTO: Sindomanado.com)

FERNANDO RUMETOR
MANADO

MEMBAHAS Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) seolah tidak ada habisnya. Virus yang telah menyebar di seluruh dunia ini, telah berdampak pada banyak sektor. Salah satu yang cukup terdampak karena pandemi ini adalah bandara. Trafik yang dulunya begitu sibuk, sejak pandemi cukup banyak rute yang ditutup. Bahkan, bandara sempat ditutup yang akibatnya banyak karyawan terdampak. Pandemi ini membuat seluruh sendi kehidupan seakan ‘ter-reset’ kembali.
Hal itu tak ditampik General Manager (GM) PT Angkasa Pura I Bandara Sam Ratulangi Manado, Minggus E.T Gandeguai kala berbincang santai di ruang kerjanya bersama wartawan KORAN SINDO MANADO, kemarin. “Memang kondisi saat ini berat, tapi saya yakin badai pasti berlalu,” ujarnya.
Ya, pria kelahiran Manokwari 30 September 1973 itu tak mau berpasrah diri dan terhanyut dalam cengkraman virus korona. Walaupun masih di masa sulit, Minggus terus berusaha untuk dapat memajukan bandara yang merupakan kebanggaan warga Bumi Nyiur Melambai ini.
Salah satunya yang dilakukannya adalah perluasan terminal bandara, kendati proyek ini pun tak luput dari dampak korona. Penyelesaiannya tertunda dari yang seharusnya selesai pada Desember 2020 lalu, kini ditargetkan dapat rampung pada awal kuartal kedua tahun 2021.

“Progres perluasan terminal bandara kini sudah 80% lebih. Memang yang menyebabkan agak lama rampung itu karena Conveyor (sistem mekanik untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat yang lain, red) yang lama, karena kita pesan dari luar negeri dan mereka juga ada kendala bahwa Conveyor itu harus di kustom ukurannya sesuai Bandara,” terang Minggus.

Faktor lainnya yang menghambat, kata pengagum Dahlan Iskan dan Chairul Tanjung itu, adalah soal cuaca, dimana curah hujan yang cukup tinggi membuat pihaknya kesulitan untuk merampungkan berbagai bagian pelengkap terminal baru, seperti aspal di depan gedung terminal.

“Curah hujan tinggi ini memang mempengaruhi. Sebab seperti aspal itu, dia kan butuh waktu untuk kering, kalau hujan terus juga sulit. Nanti kalau mau dikerjakan terus turun hujan, rugi juga, terutama yang pemasok aspal kita itu. Sehingga kita memang menyesuaikan dengan cuaca juga,” tandasnya. Kendati begitu, ia tetap optimis bahwa pengerjaannya bisa terselesaikan pada April 2021 ini.

Adapun untuk para pekerja, beber Minggus, dibagi berdasarkan shift dan zona-zona tertentu, dimana dalam satu zona hanya dibatasi 50% yakni 8-10 orang saja. “Dan kita juga kerja sampai malam juga, kecuali hari Minggu itu libur ya. Memang luar biasa juga saya diberikan mandat untuk mengerjakan proyek ini,” pungkasnya.

Di sisi lain, adanya pengunduran rencana perampungan terminal ini membuat dirinya bisa membuat hal-hal lain untuk mengimprovisasi pengembangan bandara. Salah satunya dengan melakukan harmonisasi di gedung dan terminal bandara yang lama. Seperti lewat pemasangan ornamen-ornamen batik bentenan khas Sulut.

Adapun, mantan GM Bandara Frans Kaisepo (Biak) itu mengungkapkan rencana panjangnya kedepan terkait Bandara Sam Ratulangi yang mengambil nama dari tokoh pahlawan nasional yang sangat dikenal dan bisa dikatakan paling diketahui seluruh masyarakat Sulawesi Utara (Sulut).

Putra Papua itu menyebut, semangat ‘Si Tou Timou Tumou Tou’ merupakan falsafah hebat nan mengagumkan yang disebarkan Sam Ratulangi dan merupakan anugerah yang tak terhingga. Terlebih bila falsafah ini betul-betul dihidupi dan dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.

“Manusia Hidup Untuk Memanusiakan Orang Lain. Luar biasa sekali pemikiran Sam Ratulangi yang ketika pertama kali saya lihat wajahnya, memang menampakan seorang yang jenius. Dia tidak berperang seperti Hasanudin, Ngurah Rai atau Ahmad Yani yang juga dijadikan nama bandara, tapi kalau Sam Ratulangi dia Intelektual,” kagumnya.

Minggus pun berencana akan mengabadikan pejuang kebanggaan warga Kawanua itu kedalam sebuah patung yang full body, atau dari kepala sampai ujung kaki. Jalan panjang pun masih harus ditempuh seperti berbicara dengan keluarga Sam Ratulangi hingga proses pembuatan patungnya.

“Saya berpikir itu nanti patungnya diatas beton begitu, terus betonnya tertulis sejarah, pemikiran ‘Si Tou Timou Tumou Tou’ itu, dan hal-hal lain mengenai Sam Ratulangi. Terus nanti dipinggir-pinggir itu ada taman dan kolam, jadi bisa menjadi salah satu ikon baru di Sulawesi Utara ini,” harap pria berumur 47 tahun itu.

Ia menginginkan segala hal tentang Sam Ratulangi bisa berada di patung tersebut. Dan tak hanya menjadi patung belaka, Minggus menginginkan agar perwujudan Sam Ratulangi bisa memiliki ‘roh’ di dalamnya. “Tidak semudah hanya buat begitu saja. Harus dibuat betul-betul agar dia punya ‘roh’-nya,” kata Minggus.

Diakhir, ketika ditanyakan terkait langkah kedepan setelah proyek perluasan bandara selesai, ayah dua anak ini bertekad untuk menjadikan Bandara Sam Ratulangi sebagai superhub di Indonesia Timur, dimana niscaya akan membuat bandara menjadi ramai dengan penerbangan, baik penerbangan domestik maupun internasional.

“Setelah perluasan selesai, saya akan lebih intens komunikasi dengan berbagai pihak seperti pihak maskapai, pemerintah daerah dan dinas-dinas terkait. Saya berharap ini kedepannya menjadi superhub bagi Indonesia Timur. Papua, Papua Barat, Maluku, Gorontalo, semua transit disini, tidak lagi di Makassar,” tuturnya.

Lulusan S2 di STIE Mahardika Surabaya ini merinci, seperti orang dari Jakarta yang akan berangkat menuju ke Sorong, tidak perlu lagi transit di Jakarta, tetapi bisa saja transit di Bandara Sam Ratulangi. “Saya berpikir terus apa yang membedakan Manado ini dengan daerah lain seperti Makassar, sehingga bisa menjadi tempat transit,” papar Minggus.

Ia pun terpikirkan untuk mengolah salah satu minuman khas daerah yakni Cap Tikus, yang tentunya sudah sesuai aturan, sebagai daya tarik agar bisa menjadikan Bandara Sam Ratulangi sebagai tempat transit. “Jadi nanti orang berpikir, oh saya mau transit di Manado untuk beli Cap Tikus, yang berbeda begitu. Selain itu, harus ada juga sesuatu yang berbeda, sehingga membuat orang ingin transit di Manado dan membeli sesuatu,” terangnya.

Dibenaknya pun terpikir terkait kemungkinan-kemungkinan rute penerbangan kedepan yang bisa dilakukan untuk mendukung Bandara Sam Ratulangi sebagai superhub ke Indonesia Timur. Seperti penerbangan-penerbangan antara Sulut, Maluku, serta Papua yang diucapkannya, memiliki hubungan-hubungan emosional antar individunya.

“Seperti ke Timika dari Manado itu, tidak kurang 180 orang tiap penerbangannya, karena ada hubungan emosional itu. Banyak orang Timika mempunyai bisnis disini ataupun anaknya disekolahkan disini. Belum lagi orang Papua yang menikah sama orang Manado. Begitu juga seperti Maluku Tenggara dengan Merauke yang mempunyai hubungan emosional,” kuncinya. (Fernando Rumetor)