Setahun Covid-19 Sulawesi Utara, dari 1 ke 15.196 Kasus, Gaya Hidup Masyarakat Berubah

oleh
(FOTO: Istimewa)

MANADO – 14 Maret 2020 menjadi hari yang tak bisa dilupakan dalam penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Sulawesi Utara (Sulut). Tepat pada tanggal itu, salah satu warga Sulut terkonfirmasi pasien Covid-19. Dia merupakan kasus Covid-19 pertama Sulut dan kasus ke-58 di Indonesia. Laki-laki berumur 51 tahun itu diduga terkena Covid-19 usai melakukan perjalanan dari luar negeri.

Sontak, kasus pertama itu pun menghebohkan masyarakat Sulut. Keberadaan kasus ini kemudian menyebabkan perubahan drastis dalam kehidupan bermasyarakat dan aktivitas ekonomi serta pembangunan yang ada di Sulut.

“Sejak saat itu kita mulai menerapkan protokol kesehatan di dalam kegiatan sosial,” pungkas Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Sulut, dr Steaven Dandel dalam rilis yang diterima, Minggu (14/3/2021).

Ya, sejak saat itu sekolah-sekolah mulai diliburkan, tempat-tempat ibadah mulai perlahan membatasi kegiatan ibadah, serta keadaan jalanan ibu kota Sulut, Manado -asal kasus pertama itu- mulai lengang. Banyak kegiatan pun ditunda.

“Adapun kegiatan ekonomi terdampak dan pembiayaan pembangunan di daerah ini kemudian harus di refocusing ke dalam kegiatan penanggulangan Pandemi ini,” sebut Dandel.

Setahun kini telah berlalu. Lantas bagaimana penanganan Covid-19 di Sulut?. Dandel menyebutkan bahwa dari data grafik yang dimiliki pihaknya, ada dua  gelombang besar kasus di Sulut. Yang pertama ialah periode Juli-Agustus 2020, yang kemudian melandai di bulan September dan Oktober.

“Terjadinya penurunan ini disebabkan karena protokol kesehatan sudah menjadi bagian dari gaya hidup bermasyarakat di Sulawesi Utara sehingga transmisi bisa ditekan,” kata dia. Tetapi kemudian mulai meningkat lagi dan mencapai puncak pada bulan Desember 2020 dan Januari 2021.

Gelombang kedua yang terjadi pada akhir tahun 2020 hingga awal tahun 2021 itu disebabkan karena adanya tahapan Pilkada seperti halnya terjadi juga di seluruh Indonesia yang kemudian diikuti dengan masa liburan hari raya.

“Setelahnya sampai hari ini pelandaian telah terjadi. Pelandaian ini sangat dipengaruhi oleh menurunnya jumlah swab RT PCR yang diambil selama bulan Februari dan Maret 2021,” papar Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkesda Sulut itu.

Dandel menyebut, pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 yang terus digenjot oleh pemerintah rupanya mempengaruhi performa testing dan tracing, karena perhatian petugas tersita untuk membangun sistem vaksinasi di seluruh layanan kesehatan.

“Akan tetapi optimisme terkait pelandaian ini juga bisa terlihat pada Indikator epidemiologis, yang menunjukkan bahwa transmisi mulai terkendali. Indikator dimaksud adalah Positivity Rate yang mulai tertekan dibawah 10%, sementara pada kondisi puncak di bulan Januari, Positivity Rate berada di kisaran 20%-30%,” jelasnya.

Hal ini, kata Dandel, juga terlihat dari angka keterisian Ruang Isolasi yang juga makin menurun dibawah 20%, padahal sebelumnya pada Desember 2020 sempat hampir mencapai 65% atau merupakan angka keterisian tertinggi selama virus korona ‘datang’ di Sulut.

“Kedepan nanti untuk memastikan bahwa pelandaian ini adalah sesuatu yang faktual, maka kegiatan surveilans dalam bentuk pemeriksaan Swab RT-PCR akan dipacu dan ditingkatkan di Kabupaten Kota beriringan dengan upaya untuk meningkatkan cakupan vaksinasi Covid-19,” tukasnya.

Beragam upaya terus dilakukan oleh pemerintah, baik dari pusat, provinsi, hingga ke kabupaten/kota lewat sinergitas yang ada. “Dalam jangka waktu 12 bulan telah banyak upaya yang telah dilaksanakan dalam mengendalikan pandemi ini,” sebut Dandel.

“Pengorbanan material, tenaga dan pikiran oleh pihak pihak diluar Pemerintahan juga turut berkontribusi dalam pembangunan sistem pengendalian ini. Saat ini Pandemi belum selesai!,” tegas Dandel.

Beberapa negara di dunia, seperti Brazil,Italia, Hungaria dan bahkan India melaporkan adanya peningkatan kasus yang cukup signifikan, yang ditakuti akan menjadi gelombang ketiga Pandemi, karena kehadiran beberapa varian baru virus dengan kemampuan tular tinggi.

Oleh sebab itu, ucap Dandel, kesiapsiagaan sistem pengendalian tetap dioptimalkan di samping upaya percepatan vaksinasi bagi masyarakat. Walaupun penurunan kasus cukup bermakna di Sulawesi Utara, tetapi kita belum bisa menanggalkan kebiasaan hidup baru dengan kepatuhan protokol kesehatan.

“Satgas Covid-19 Sulut tetap mengedepankan himbauan bagi masyarakat untuk patuh terhadap semua peraturan terkait protokol kesehatan pencegahan Covid-19,” tambah Dandel seraya mengatakan bahwa untuk mngantisipasi hal diatas, maka Satgas Covid 19 telah melaksanakan Pilot Project.

Pilot Project yang dimaksudkan ialah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro di desa Warembungan, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa. “Pilot Project ini dimaksudkan sebagai wahana untuk menilai kelayakan PPKM di Sulawesi Utara,” bebernya.

“Bila memang perlu diperluas ke tempat lain, apabila terjadi lagi peningkatan kasus. Pembelajaran dari proyek ini akan bermanfaat untuk mitigasi dan manajemen respons wabah di lokasi lainnya,” ungkap Dandel.

Adapun, Minggu (14/3/2021) kemarin, Sulut mencatatkan penambahan sebanyak 14 kasus baru, sehingga total kasus Covid-19 yang ada mencapai 15.196 orang. Dimana 12.186 orang diantaranya telah dinyatakan sembuh, 516 orang meninggal dunia, dan 2.494 orang masih berada dalam pengawasan maupun perawatan.

“Angka Kesembuhan Covid-19 di Sulawesi Utara per 14 Maret 2021 adalah 80,2 % dan Angka Kematian (Case Fatality Rate) sebesar 3,39%. Kasus aktif sebesar 16,41%,” rinci Dandel dalam rilis yang diterima.

Selain itu, terkait vaksinasi yang terus dikebut, hingga saat ini vaksinasi Covid-19 dosis pertama bagi Sumber Daya Manusia bidang Kesehatan (SDMK) Sulut telah mencapai 26.547 orang atau 122,3% dari target awal yang sebanyak 21.782 orang.

Lalu, vaksinasi Covid-19 dosis pertama bagi pelayan publik seperti tokoh agama, guru, ASN, TNI dan Polri hingga wartawan telah mencapai 21.121 orang atau 10,83% dari target vaksinasi pelayan publik di Sulut yang menyebut angka 194.979 orang.

Vaksinasi pun kini telah menyasar para lanjut usia (Lansia). Dimana data terakhir menunjukkan bahwa penyuntikkan dosis pertama dari vaksin Covid-19 telah diberikan kepada sekira 3.128 orang lansia atau 1,82% dari target sejumlah 172.736 orang. (Fernando Rumetor)