Penolakan Beroperasinya Perusahaan Tambang Emas Sangihe Kian Masif

oleh -
Tampak Pulau Sangihe yang bakal dijadikan wilayah pertambangan. (ist)

TAHUNA — Elemen masyarakat Sangihe bergerak pascamunculnya perusahaan Tambang Emas Sangihe (TMS) yang akan beroperasi di wilayah Pulau Sangihe. Mereka berbondong-bondong menolak kehadiran PT TMS itu.

Mulai dari kalangan aktivis sampai gerakan via media sosial untuk menggalang dukungan menolak TMS di Sangihe. Informasi yang dirangkum, TMS mengantongi izin dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) bernomor 163.K/MB.04/DJB/2021 tertanggal 29 Januari 2021 yang ditandatangani Direktur Jenderal Mineral dan Batubara(minerba) untuk mengelola sekira 42.000 hektare tanah di Sangihe. Sementara luas pulau Sangihe tak lebih dari 70.000 hektare.

Aksi demo mulai dilakukan, selain itu ada juga diskusi melibatkan berbagai elemen untuk sepakat menolak kehadiran PT TMS tersebut. Soleman Ponto yang pernah menjadi Kepala BAIS kini sebagai staf ahli Watimpres (Dewan Pertimbangan Presiden) pun angkat bicara menolak kehadiran PT TMS di Sangihe. “Hal ini harus sama-sama kita tolak. Tidak bisa dibayangkan beberapa tahun ke depan, dampak kerusakan yang ditimbulkan dengan adanya perusahaan tambang di Sangihe” sesal Ponto.

Akademi Frans G Ijong, juga mengatakan hal senada. Menurut dia, perlu ada sinergitas untuk menolak penambangan emas di Sangihe. Sebab itu, pihaknya tengah melakukan konsolidasi dengan para akademisi asal Sangihe untuk melakukan aksi solidaritas menolak kehadiran PT TMS “Kami juga tengah melakukan berbagai upaya untuk menolak tambang emas di Sangihe. Artinya, kami akademisi punya tanggung jawab moril atas daerah ini” tandasnya.

Tokoh masyarakat Atohema Medea menambahkan, penolakan terhadap tambang emas di Sangihe harus menjadi gerakan yang masif sehingga dari gerakan ini harus ada upaya masyarakat bertemu langsung dengan Presiden untuk meminta membatalkan izin PT TMS di Sangihe “Harus dilakukan secara masif penolakan dari masyarakat. Bahkan hingga ke presiden untuk menyampaikan masalah ini, jika tidak percuma aksi kita selama ini” pungkas Medea. (andy gansalangi)