MANADO – Balai Karantina Pertanian Kelas I Manado terus mendorong ekspor berbagai komoditas pertanian yang memiliki prospek ekonomi menjanjikan bagi petani Sulawesi Utara (Sulut).

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Manado, Donni Muksydayan Saragih menuturkan, hal ini sesuai dengan semangat Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) untuk mengakselerasi ekspor dari komoditas Pertanian.

“Ada lima indikator yang kami pakai untuk melihat kinerja Gratieks ini. Dimana yang pertama adalah bagaimana pertambahan dari ragam komoditas ekspor ini,” tutur Donni saat diwawancarai oleh wartawan harian ini, Senin (21/6/2021).

Indikator selanjutnya ialah penambahan negara tujuan ekspor, penambahan frekuensi ekspor, volume ekspor, serta nilai ekonomi dari ekspor tersebut. “Data hingga Mei 2021 ini, semua indikator tersebut mengalami peningkatan,” tuturnya.

Adapun untuk jumlah komoditas yang diekspor dari Sulut ke berbagai negara tujuan ekspor mengalami peningkatan dari 23 ragam komoditas pada Januari-Mei 2020 menjadi 69 komoditas pada Januari-Mei 2021 ini.

“Ini masih didominasi oleh komoditas Perkebunan kelapa dan turunan olahannya, kemudian pala dan turunannya. Lalu kenapa ini ada peningkatan signifikan ragam komoditas ekspor? karena sekarang kita memiliki direct call ekspor ke Jepang,” paparnya.

Dikatakan Donni, direct call atau penerbangan langsung ke Jepang membuat banyak produk-produk hortikultura Sulut mulai merambah pasar luar negeri. “Dari yang tadinya produk Perkebunan, sekarang jadi produk Pertanian,” ungkapnya.

“Seperti bawang, pisang, gula aren, bumbu-bumbu dapur, serta rempah-rempah. Itu yang menyebabkan bertambahnya ragam komoditas ekspor serta frekuensi ekspor kita. Hal ini pun membuat banyak eksportir-eksportir baru bermunculan,” jelas Donni.

Pihaknya juga terus mendorong ekspor komoditas Pertanian ke Singapura dan China yang juga memiliki direct call. “Salah satu komoditas ekspor baru kita adalah air kelapa. Prospeknya sangat menjanjikan karena sampai saat ini eksportirnya baru satu,” tukasnya.

Menurutnya selama ini banyak eksportir yang menganggap bahwa air kelapa ini belum memiliki nilai ekonomi untuk bisa di ekspor ke luar negeri. Namun nyatanya produk tersebut sangat menjanjikan untuk bisa di ekspor.

Selain itu, komoditas ekspor baru yang saat ini sangat menarik untuk di ekspor adalah tanaman hias. “Sudah ada delapan negara tujuan ekspor tanaman hias ini. Salah satu tanaman hias yang di ekspor ialah bunga Alocasia. Ternyata ini merupakan bunga asli dari Sulut,” sebutnya.

Masih banyak juga komoditas ekspor baru yang terus di dorong oleh Balai Karantina Pertanian Manado. Selain untuk mensukseskan Gratieks, hal ini juga dilakukan untuk menumbuhkan perekonomian para petani.

Kendati demikian, kata Donni, diperlukan juga pendampingan kepada para petani agar bisa mengolah lahan dan hasil pertaniannya dengan semangat ekspor. Dimana mutu tanaman harus ditingkatkan agar memenuhi standar dari negara tujuan ekspor. (Fernando Rumetor)