Sang ibu kemudian mendaftarkannya ke karate sebagai wadah penyaluran energinya.
Dari karate, ia beralih ke taekwondo, lalu direkrut oleh Coach Billy Pasulatan untuk masuk ke dunia kickboxing.

Saat sang pelatih pindah ke Bali, Wulan ikut berkarir di sana — dan di sanalah untuk pertama kalinya ia turun di pertandingan Muay Thai.
“Pertama kali kita turun Muay Thai ya di Bali,” ceritanya.

Meski berlatar kickboxing yang hanya mengandalkan pukulan dan tendangan, Wulan memaksimalkan teknik Muay Thai saat turun di Bali — dan berhasil meraih juara pertama mengalahkan atlet lokal Bali yang sudah lama berkecimpung di cabang olahraga tersebut.

Setelah sempat berkarir di Bali, Wulan kembali ke Sulawesi Utara pada akhir 2024 dan terus mengasah kemampuannya hingga akhirnya terpilih mewakili Indonesia di IFMA World Championship 2026.

Mimpi Besar untuk Indonesia dan Sulawesi Utara
Di balik segala keringat dan air mata dalam latihan, Wulan menyimpan mimpi yang jauh melampaui dirinya sendiri.

“Kita bermimpi tidak cuma menjadi atlet nasional, tapi Tuhan berkehendak lain, ada panggilan untuk menjadi atlet internasional, membawa nama Indonesia, juga merangkul nama Sulawesi Utara di ajang IFMA,” tegasnya.

Pesan untuk Generasi Muda, Khususnya Perempuan
Wulan juga menyampaikan pesan khusus bagi adik-adik perempuan di Manado agar tidak terjebak dalam pergaulan negatif dan berani mencoba hal-hal positif seperti bela diri.

“Ikut-ikut hal positif. Bagi yang mau join di bela diri manapun, termasuk Muay Thai, kembangkan itu sampai mimpi tercapai. Biar siksa di latihan, enggak apa-apa — siksa dahulu, bersenang-senang kemudian,” pesannya sambil tersenyum.

Di klubnya kini, sudah ada empat adik-adik muda yang mulai berlatih bela diri, dengan usia termuda baru duduk di kelas satu SD.

Wulan berharap semangat yang ia bawa ke Malaysia nanti bisa menjadi inspirasi bagi generasi penerus Sulawesi Utara.