Penulis: Gladys Runtukahu, BSSc, S.Pd, MSi
Membaca Alasan di Balik Koper yang Dikemas Orang Tua Calon Mahasiswa Baru Setiap Tahun
Kualitas pendidikan tinggi di Sulawesi Utara (Sulut) sesungguhnya tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) kini menyandang akreditasi institusi Unggul dari BAN-PT — capaian yang menjadikannya perguruan tinggi pertama di kawasan timur Indonesia yang meraih predikat tertinggi itu. Universitas Negeri Manado (Unima) baru saja menyusul dengan status Unggul pada 2025, setelah bertahun-tahun berakreditasi B. Universitas Klabat (Unklab) mengantongi predikat Baik, dan Universitas Katolik De La Salle Manado, meski sebagian besar program studinya masih berakreditasi B, terus menambah program yang naik peringkat lewat lembaga akreditasi mandiri.
Dari sisi pemeringkatan nasional pun posisinya tidak buruk, meskipun juga tidak tercatat di peringkat atas. Unsrat konsisten bertengger di kisaran 30 besar nasional versi Webometrics dan peringkat 50-an versi uniRank — jauh di atas ratusan kampus lain di Indonesia. Unima, Unklab, dan De La Salle Manado juga rutin masuk daftar ratusan besar nasional di kedua lembaga tersebut. Fasilitas makin lengkap, program studi makin variatif, dan kualitas tenaga pengajarnya sudah teruji lewat akreditasi yang jelas.
Untuk tahun ini saja, skalanya bisa dilihat dari beberapa SMA unggulan di Manado saat pelepasan siswa kelas XII tahun ajaran 2025/2026. SMA Negeri 1 Manado melepas 644 siswa, dan 87 di antaranya sudah dinyatakan diterima di PTN lewat jalur SNBP saja — belum termasuk yang menyusul lewat SNBT atau jalur mandiri. SMA Negeri 9 Binsus Manado melepas 824 siswa tahun ini. SMA Kristen Eben Haezar Manado mencatat 46 siswanya lolos SNBT 2026. Sekolah-sekolah ini tidak merilis rincian resmi berapa dari siswa yang diterima itu memilih kampus di Sulut dan berapa yang memilih kampus di luar daerah — data itu tidak dipublikasikan secara terbuka oleh pihak sekolah — tapi pantauan Instagram resmi sekolah, obrolan di ruang guru dan grup orang tua tiap tahun selalu bercerita hal yang sama: sebagian nama yang disebut saat pengumuman kelulusan itu justru menyusul kakak kelasnya ke Jawa, Bali, Sumatera atau lebih jauh lagi, ke luar negeri.
Pertanyaannya, jika data di atas menunjukkan kampus lokal sudah bagus, mengapa orang tua masih rela merogoh kocek lebih dalam dan menahan rindu demi mengirim anak belajar di tempat yang jauh?
Pilihan ini tidak diambil sekedar karena mereka meragukan kualitas kampus di tanah sendiri. Treesje Janti, salah satu orang tua asal Manado, merasakan betul pengalaman ini. Anak bungsunya, Reginald, kini menempuh studi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, menyusul kakaknya yang telah duluan lulus dan saat ini memilih bekerja dan menetap di Australia.
Bagi Treesje, keputusan melepas anak menuntut ilmu jauh dari rumah (far from home) sesungguhnya bukan soal “anak berkuliah di mana”, melainkan soal “seperti apa anak kita terbentuk saat ia kembali nanti” — dan, yang tak kalah penting, “ke mana ia akan melangkah setelah lulus”. Dari kacamata orang tua, setidaknya ada empat alasan fundamental di balik keputusan besar ini.
Empat alasan di balik keputusan kuliah di luar
Kesempatan menempa kemandirian yang sesungguhnya
Berkuliah di daerah sendiri sering kali membuat anak tetap berada dalam zona nyaman atau comfort zone. Rumah masih menyediakan tempat tidur yang nyaman, makanan selalu tersedia di meja, dan masalah harian siap diselesaikan oleh orang tua.
Ketika orang tua memutuskan mengirim anak keluar daerah, itu adalah bentuk “investasi kemandirian”. Anak, mau tidak mau, akan belajar mengelola keuangannya sendiri, mengatur jadwal makan, mengurus diri saat sakit, dan mengambil keputusan-keputusan kecil tanpa bisa bergantung pada kehadiran fisik orang tua. Di sinilah proses pendewasaan yang sebenarnya terjadi.
Kemandirian di sini juga berarti belajar menjaga diri sendiri — dari risiko keamanan di lingkungan yang belum sepenuhnya dikenal, hingga kepekaan membaca kondisi kesehatan tubuhnya sendiri. Wajar bila orang tua diliputi rasa was-was menghadapi bagian ini. Namun justru di titik itulah tantangan kemandirian yang sesungguhnya diuji, dan pada akhirnya akan membekali anak dengan kewaspadaan dan kepekaan yang akan terus berguna sepanjang hidupnya.
Dalam ilmu psikologi perkembangan, fase ini punya nama tersendiri. Psikolog Jeffrey Jensen Arnett menyebutnya emerging adulthood — masa transisi antara remaja dan dewasa yang berlangsung sekitar usia 18 hingga 29 tahun, persis rentang usia mahasiswa. Menurut Arnett, tugas perkembangan utama di fase ini justru adalah mengurangi ketergantungan pada orang tua dan mengambil alih kendali atas keputusan hidup sendiri. Dengan kata lain, dorongan orang tua Sulut untuk melepas anak jauh dari rumah sebenarnya sejalan dengan apa yang secara alamiah memang harus dilalui setiap anak muda di usia itu — hanya saja merantau mempercepat dan memperjelas proses itu, karena tidak ada lagi ruang untuk menunda.
Membuka Akses ke Jalur Karier yang Belum Tersedia di Sulut
Akreditasi yang bagus tidak selalu berarti pilihan program studi selengkap yang dibutuhkan pasar kerja hari ini. Sains Data sebagai program studi tersendiri (bukan sekadar konsentrasi di dalam Informatika), Aktuaria untuk industri asuransi dan keuangan, Rekayasa Semikonduktor yang tengah didorong pemerintah untuk industri chip nasional, Keamanan Siber sebagai prodi mandiri, hingga Teknik Kedirgantaraan yang di Indonesia praktis hanya ada di ITB — semua ini belum tersedia di kampus manapun di Sulut. Bahkan untuk sejumlah subspesialis kedokteran, pendidikannya masih terpusat di rumah sakit pendidikan besar di Jawa karena membutuhkan volume kasus dan alat yang belum tersedia di daerah.
Bagi anak maupun orang tua, ini bukan tentang meragukan Unsrat atau kampus lain di Sulut. Ini soal realistis membaca peta: kalau cita-cita anak menuntut jalur pendidikan yang belum ada di rumah, maka merantau menjadi satu-satunya pilihan. Orang tua tidak sedang “membandingkan” kampus, tetapi mencocokkan jalur pendidikan dengan cita-cita spesifik anaknya.
Freddy Lengkong punya contoh nyata soal ini lewat anaknya, Sasha, yang lolos SNBP di Universitas Indonesia untuk program studi Hubungan Internasional. Pilihan itu tidak bisa didapat di kampus manapun di Sulut, dan hasilnya kini terlihat: Sasha tengah menjalani magang di salah satu kementerian di Jakarta — pengalaman yang praktis memperkaya wawasan untuk Sasha yang memang memiliki impian berkarier sebagai diplomat.
Membangun Jaringan (Networking) yang Lebih Luas
Tidak bisa dimungkiri, pusat-pusat industri, bisnis nasional, dan pemerintahan pusat sebagian besar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa atau kota-kota besar internasional. Dengan berkuliah di luar daerah, anak-anak memiliki kesempatan untuk membangun jejaring pertemanan dan profesional sejak dini di skala yang lebih luas, sekaligus terbiasa berinteraksi dengan teman sebaya dari beragam latar belakang budaya dan karakter — sesuatu yang memperluas cara pandang mereka terhadap dunia. Jaringan dan wawasan semacam ini kelak menjadi modal berharga ketika mereka memasuki dunia kerja, membangun bisnis, atau berkolaborasi secara nasional dan global.
Ada cara lain melihat ini: memilih kampus untuk anak sebenarnya juga memilih lingkungan pergaulan seperti apa yang akan membentuknya selama empat tahun ke depan. Ketika seorang anak dikelilingi oleh sesama anak muda berprestasi dari berbagai daerah — di kampus dengan reputasi dan daya saing masuk yang tinggi — orang tua secara tidak langsung sedang menanamkan investasi pada pertemanan dan koneksi yang akan terus terpakai jauh setelah wisuda. Mereka akan mendapatkan sahabat dari berbagai daerah yang secara tidak langsung menambah pemahaman lintas budaya. Ini bukan soal gengsi, melainkan harapan yang wajar: bahwa lingkaran pertemanan yang baik hari ini bisa menjadi jejaring yang saling menopang di masa depan.
Dalam sosiologi, gagasan ini dikenal sebagai teori modal sosial, yang dikembangkan sosiolog Pierre Bourdieu dan ilmuwan politik Robert Putnam. Bourdieu memandang modal sosial sebagai aset yang diperoleh seseorang lewat keanggotaannya dalam jaringan sosial tertentu, sementara Putnam menekankan modal sosial sebagai jaringan, norma, dan kepercayaan yang membuat orang-orang di dalamnya bisa saling bertindak lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama. Artinya, kampus dengan lingkungan pergaulan yang kompetitif dan beragam bukan cuma tempat belajar — ia juga arena pembentukan modal sosial, aset tak kasat mata yang nilainya baru terasa bertahun-tahun kemudian, ketika jaringan itu terpakai untuk mencari pekerjaan, membuka usaha, atau sekadar mendapat rujukan yang tepat di saat dibutuhkan.
Ilona Emod, orang tua dari Noel Weenas, merasakan langsung buah dari proses saat Noel berkuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Di sana, Noel pernah menjabat sebagai Ketua Seni Budaya Nusantara (SBN) UAJY, sebuah komunitas multidisiplin yang mempromosikan warisan budaya Indonesia melalui tujuh komunitas budaya daerah (Manado, NTT, Nias, Dayak, Batak, Toraja, Papua). Hal tersebut menjadi nilai tambah bagi Noel baik dalam networking maupun leadership.
Menghadapi Iklim Kompetisi yang Lebih Masif
Seperti yang disinggung di poin pertama soal menempa kemandirian, di sinilah kemandirian itu diuji naik satu tingkat: menjadi ketangguhan dalam berkompetisi. Bayangkan anak yang tadinya terbiasa diurus orang tua, tiba-tiba harus mengurus dirinya sendiri sepenuhnya. Ketika tugas yang dikerjakan semalam suntuk tertinggal di kamar kos, tidak ada lagi yang bisa disalahkan selain diri sendiri — ia harus menanggung konsekuensinya sendiri. Kalau di rumah dulu mungkin masih ada kakak, adik, atau kerabat yang bisa diandalkan untuk membantu, kini tidak ada pilihan lain selain mengerjakan semuanya sendiri. Anak dituntut bukan cuma mandiri, tapi juga tangguh berkompetisi — sebab kalau belum bisa mengalahkan kelalaian dan kemalasannya sendiri, mustahil ia akan unggul di kompetisi yang jauh lebih luas.
Perasaan cepat puas sering kali menjadi tantangan anak muda yang tidak pernah keluar dari lingkungannya. Dengan menerjunkan anak ke dalam ekosistem pendidikan di kota-kota besar atau luar negeri, orang tua ingin anak-anak mereka merasakan iklim kompetisi yang lebih ketat.
Melihat bagaimana gigihnya anak-anak muda dari berbagai daerah atau negara lain berjuang akan memicu daya juang (grit) dan semangat pantang menyerah dalam diri anak.
Keberatan yang Jujur Harus Diakui
Sampai di sini, tulisan ini bisa saja terdengar seperti pembelaan sepihak terhadap keputusan merantau. Padahal ada satu kritik yang tidak adil untuk dilewatkan begitu saja: sebagian besar anak yang menuntut ilmu di luar daerah pada akhirnya enggan kembali ke Sulut. Ini bukan prasangka — ini pola yang berulang di banyak daerah di Indonesia, termasuk Sulut, dan penyebab utamanya jelas: lapangan pekerjaan di daerah asal masih terbatas, terutama untuk bidang-bidang spesifik yang mereka pelajari jauh-jauh di perantauan.
Fenomena ini yang sering disebut brain drain — daerah membiayai (secara emosional maupun finansial) pendidikan generasi terbaiknya, tapi hasil akhirnya dinikmati kota lain yang menyediakan lapangan kerja lebih luas.
Kajian pustaka Sari dan tim peneliti (2025) yang mengulas publikasi ilmiah migrasi intelektual Indonesia periode 2020–2025 turut menegaskan hal serupa: migrasi talenta tidak harus berujung kerugian permanen, selama ada strategi yang tepat — mulai dari penguatan pendanaan riset, insentif karier, hingga pembangunan jejaring diaspora — yang dapat mengubah brain drain menjadi brain gain. Artinya, arah keberpihakan bukan lagi soal “mencegah anak pergi”, melainkan “membangun jalur agar yang pergi tetap terhubung dan bisa menyumbang kembali”, entah lewat kontribusi jarak jauh, jejaring alumni, atau kepulangan di kemudian hari setelah ekosistem kerja di daerah lebih siap menampung mereka.
Ini keberatan yang valid, dan orang tua sadar betul akan risiko ini. Tapi justru di titik inilah letak persoalannya menjadi lebih jujur: keputusan melepas anak merantau bukan sekadar soal “kampus mana yang lebih baik”, melainkan soal membaca realitas bahwa jalur karier anak — bidang yang mereka tekuni, industri yang mereka tuju — sering kali memang belum tersedia di Sulut, entah itu tempat kuliahnya, entah itu tempat kerjanya nanti. Artinya, tantangan sesungguhnya bukan pada kualitas kampus lokal, melainkan pada ekosistem industri dan lapangan kerja di daerah yang belum berkembang secepat kualitas pendidikannya. Menyalahkan orang tua karena “tidak percaya kampus sendiri” jadi kurang tepat sasaran — yang perlu dibenahi adalah peluang kerja di Sulut, bukan cuma peringkat kampusnya.
Tidak Semua Memiliki Jalan yang Sama
Namun perlu diakui juga, pola yang dibahas sejauh ini bukan satu-satunya realitas yang terjadi. Pada kenyataannya, banyak juga orang tua yang menempuh arah sebaliknya: meminta, bahkan mensyaratkan, anaknya untuk pulang dan menetap kembali di daerah begitu masa kuliah selesai — cukup dengan bekal pengalaman merantau, tanpa harus meniti karier lebih jauh di luar daerah.
Alasannya pun beragam dan sama sahihnya. Ada keluarga yang usaha atau bisnisnya membutuhkan penerus langsung, dan jumlah anggota keluarga yang bisa diandalkan untuk melanjutkannya terbatas, sehingga kepulangan anak bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Ada pula yang didorong faktor psikologis yang sangat manusiawi: keinginan untuk tetap dekat dengan anak, terutama di usia orang tua yang mulai membutuhkan kehadiran mereka. Atau ada juga bahkan, anak yang ingin kembali karena merasa lebih nyaman untuk menetap di daerah sendiri. Bagi keluarga semacam ini, merantau tetap dianggap penting — sebagai bekal pengalaman dan pembentukan karakter yang dibahas di poin-poin sebelumnya — tapi bukan sebagai tujuan akhir. Tujuan akhirnya tetap kepulangan.
Kedua jalan ini — melepas anak jauh-jauh dengan harapan pulang suatu hari, atau melepas sementara dengan syarat pulang segera — sama-sama bertolak dari kebutuhan keluarga yang berbeda. Tidak ada yang lebih benar dari yang lain.
Penutup: Mengirim untuk Mengembalikan yang Terbaik
Melepas anak pergi jauh tentu bukan perkara mudah bagi orang tua mana pun. Ada rasa khawatir, kesepian, dan tentu saja pengorbanan finansial yang tidak sedikit — ditambah lagi kesadaran bahwa anak yang dilepas hari ini punya peluang besar untuk tidak pernah benar-benar “pulang”. Namun, bagi para orang tua, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu di dalam kelas untuk mendapatkan selembar ijazah. Pendidikan adalah proses membentuk karakter, melatih mental, memperluas cakrawala berpikir, dan — yang paling nyata — membuka jalan menuju karier yang sesuai dengan cita-cita anak.
Keputusan untuk menempuh studi di luar daerah setiap tahun ajaran baru itu bukan tanda ketidakpercayaan pada pendidikan di Sulut. Rela hidup terpisah itu adalah bentuk kasih sayang orang tua yang sadar: perjalanan anak mereka bukan cuma soal empat tahun di bangku kuliah, tapi soal ke mana perjalanan itu akan bermuara. Orang tua melepaskan anak-anak mereka terbang jauh hari ini, dengan harapan kelak mereka kembali ke daerah — bukan hanya sebagai sarjana, tetapi sebagai pribadi yang matang, mandiri, dan siap membuka jalan baru bagi daerahnya, bahkan jika itu berarti daerahnya sendiri yang harus lebih dulu berbenah menyiapkan tempat untuk mereka pulang.
Dan seandainya jalan hidup membawa mereka menetap di daerah lain, ada sebuah keyakinan orang tua tentang satu hal yang tak pernah benar-benar lepas: akar daerah yang melekat dalam diri anak-anak mereka. Ke mana pun cita-cita membawa langkah mereka, nama daerah ini akan terus mereka bawa serta — dalam identitas yang mereka perkenalkan, dalam kisah asal-usul yang mereka ceritakan kepada dunia. Selama itu, mereka tetap menjadi duta kecil bagi tanah kelahirannya, di manapun mereka akhirnya berkarya.
Perlu digarisbawahi pula, jalan ini tidak terbuka sama rata bagi semua keluarga di Sulut. Dengan biaya hidup, biaya kuliah, dan ongkos pulang-pergi yang menumpuk di atas UKT, melepas anak kuliah jauh dari rumah pada akhirnya adalah pilihan yang realistis hanya bagi orang tua berkecukupan ekonomi, atau bagi anak yang berhasil meraih beasiswa penuh. Bagi banyak keluarga lain, opsi ini masih menjadi impian yang belum terjangkau — dan itu sendiri adalah pekerjaan rumah yang tidak kalah penting: memperluas jalur beasiswa, agar “koper” itu kelak bisa dikemas oleh siapa saja, bukan hanya mereka yang mampu.


Tinggalkan Balasan