MANADO – Perekonomian Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tetap menunjukkan kinerja positif pada Triwulan III 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut mencatat pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 4,85 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y).
Sementara itu, secara kumulatif hingga Triwulan III 2026, ekonomi Sulut tumbuh sebesar 5,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data tersebut disampaikan Kepala BPS Sulawesi Utara, Watekhi, dalam pemaparan Berita Resmi Statistik (BRS) yang digelar di Kantor BPS Sulut, Kamis (5/11/2026).
Watekhi menjelaskan, aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara di tengah berbagai tantangan ekonomi.
“Berdasarkan lapangan usaha, sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 29,57 persen secara tahunan,” ucapnya.
Pertumbuhan tersebut dipengaruhi meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan seiring fenomena El Niño yang memicu kemarau berkepanjangan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi tersebut berdampak terhadap penurunan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, sehingga mendorong peningkatan kebutuhan penanganan medis, kunjungan pasien, serta aktivitas fasilitas pelayanan kesehatan.
“Selain sektor kesehatan, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 23,26 persen,” ungkapnya.
Kinerja positif ini ditopang meningkatnya tingkat penghunian kamar hotel seiring bertambahnya kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara.
Penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala besar atau Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), berkembangnya usaha kuliner, serta meningkatnya aktivitas penyediaan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memberikan kontribusi.
Sektor Jasa Lainnya juga tumbuh tinggi sebesar 16,84 persen. Peningkatan ini didorong berbagai aktivitas masyarakat, termasuk perayaan Pengucapan Syukur serta penyelenggaraan kegiatan seni, budaya, dan olahraga seperti Tomohon International Flower Festival (TIFF), Urban Digifest, dan Pekan Kebudayaan Daerah.
Dari sisi sumber pertumbuhan, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial memberikan kontribusi terbesar sebesar 1,39 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Sulut.
Disusul sektor Konstruksi sebesar 1,25 persen dan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 0,50 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 2,44 persen.
Komponen ini tumbuh 6,81 persen secara tahunan, didorong peningkatan impor barang modal serta aktivitas pembangunan dan perbaikan infrastruktur, hunian, dan gedung perkantoran.
Percepatan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih juga turut mendukung peningkatan investasi tersebut.
Adapun secara struktur, perekonomian Sulawesi Utara masih didominasi lima lapangan usaha utama, yakni Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 19,69 persen, Perdagangan sebesar 12,98 persen, Konstruksi 12,04 persen, Transportasi dan Pergudangan 11 persen, serta Industri Pengolahan 10,65 persen.
Meski demikian, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami kontraksi 2,03 persen secara tahunan.
Kondisi ini dipengaruhi cuaca ekstrem akibat fenomena Super El Niño yang memicu kekeringan berkepanjangan dan mengganggu produksi serta produktivitas sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan.
Di sisi lain, neraca perdagangan luar negeri Sulut masih mencatatkan surplus sebesar 248,12 juta dolar AS, meskipun mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Watekhi menegaskan, secara keseluruhan perekonomian Sulawesi Utara masih mampu mempertahankan pertumbuhan positif hingga Triwulan III 2026.
Kinerja sejumlah sektor strategis, terutama kesehatan, konstruksi, akomodasi dan makan minum, serta investasi menjadi penopang penting bagi aktivitas ekonomi daerah. (nando)
