MANADO – Upaya menjaga stabilitas harga di Sulawesi Utara kini menyentuh dapur dan halaman rumah warga. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara bersama Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Sulawesi Utara, Kota Manado, dan Kabupaten Minahasa Utara menggulirkan Gerakan Tanam Cabai sebagai bagian dari pengendalian inflasi daerah.
Sosialisasi gerakan ini dikemas dalam lomba video edukatif yang merekam budidaya cabai dari tahap pembibitan, perawatan, sampai panen. Kegiatan digelar di Kantor Bank Indonesia, Senin (2/11/2026).
Peserta didorong memanfaatkan pekarangan atau lahan sempit di sekitar rumah, termasuk menanam dalam pot.
Wakil Ketua TP PKK Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Merry Mailangkay Kalalo, menilai gerakan ini sebagai langkah konkret menuju kemandirian pangan masyarakat.
Cabai, kata dia, termasuk komoditas hortikultura yang selalu dibutuhkan rumah tangga. Bila keluarga mampu memenuhi kebutuhan cabainya sendiri, ketergantungan pada pasokan pasar pun diharapkan berkurang.
“Gerakan ini tidak boleh hanya menjadi agenda seremonial, tetapi harus mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih produktif dan mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri,” ujarnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menjelaskan bahwa cabai dipilih karena komoditas ini sangat dekat dengan keseharian masyarakat Sulawesi Utara. Tahun ini, cabai menjadi salah satu faktor utama penyebab tingginya inflasi di daerah tersebut.
Menurut Joko, tingkat konsumsi cabai di Sulawesi Utara mencapai tiga hingga empat kali lipat dibandingkan rata-rata nasional, sementara pasokan dari dalam provinsi belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan.
“Situasi diperparah oleh cuaca ekstrem yang menekan produksi, baik di Manado maupun di sentra-sentra lainnya, sehingga pasokan menjadi langka dan harga melonjak,” ucapnya.
Karena itu, Gerakan Tanam Cabai yang diawali PKK ini diharapkan menjadi pemicu agar masyarakat menanam cabai di rumah masing-masing.
“Dengan begitu, kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi secara mandiri tanpa bergantung pada daerah lain, sekaligus membantu menjaga kecukupan suplai cabai di Sulawesi Utara,” ungkapnya l.
Joko menambahkan, warga dapat memanen sendiri hasil tanamannya, misalnya untuk membuat sambal dabu-dabu. Manfaatnya akan lebih maksimal jika cabai dikombinasikan dengan tanaman tomat.
“Pada tahap awal, sasaran sosialisasi adalah Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara, dengan bibit cabai yang disediakan baru berjumlah 130 bibit sebagai pemicu,” tuturnya.
“Jika ada kebutuhan tambahan, pasokan bibit akan dipenuhi kembali, bergantung pada kreativitas dan permintaan PKK di masing-masing daerah,” tambah Joko.
Ke depan, gerakan ini akan dijajaki untuk diperluas ke kabupaten lain yang sudah siap. Merry pun berharap program serupa dapat menjangkau daerah lain di Sulawesi Utara.
Merry mengapresiasi Bank Indonesia yang bersinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan menjaga inflasi daerah.
Lewat lomba video tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menimba pengetahuan tentang cara menanam cabai, tetapi juga berbagi pengalaman sehingga keluarga lain terdorong melakukan hal yang sama.
Hadir dalam kegiatan ini Ketua TP PKK Kota Manado Ny. Irene Golda Angouw Pinontoan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Joko Supratikto, Deputi BI Sulawesi Utara Darmawan Hutabarat dan Purwanto, Sekretaris TP PKK Provinsi Sulawesi Utara Sherly Mewengkang Nayoan, serta Sekretaris TP PKK Kabupaten Minahasa Utara Diana Dondokambey Kesanti. (nando/*)
