Momen Natal, Warga Sulut Diimbau Tak Perdagangkan Yaki

oleh -
Sekelompok Yaki beraktivitas di Kawasan Hutan Lindung Gunung Tangkoko Batuangus, Bitung, Sulawesi Utara. (Foto:Istimewa)

MANADO – Warga Sulawesi Utara (Sulut) diimbau untuk merayakan Natal dan Tahun Baru tanpa daging satwa liar, salah satunya Yaki atau Monyet Wolai.

Yaki berstatus sangat terancam punah dan hanya ada di Sulawesi Utara (Sulut). Populasi mereka berkurang karena perburuan untuk dikonsumsi.

Selain Yaki, satwa yang dilindungi oleh Nomor 5 Tahun 1990 adalah kuskus. Satwa-satwa ini yang dilarang untuk diperdagangkan namun masih sering ditemui di pasar-pasar.

Seperti diketahui, satwa-satwa liar juga termasuk kelelawar dan tikus serta daging ekstrem lain yang dijual di pasar dapat membawa penyakit-penyakit zoonosis yang dapat berakibat fatal bagi manusia, semisal rabies.

Sulut berada pada peringkat kedua untuk kasus rabies di Indonesia setelah Bali. Penyakit-penyakit zoonosis yang bisa ditularkan satwa liar adalah cacar air, tuberculosis, demam kuning, rubella dan masih banyak lagi.

Karena itu, Pemerintah telah berjanji untuk mengakhiri perdagangan anjing dan kucing oleh karena kekejaman dan resiko kesehatan.

Sabtu (22/12/2018) lalu, kampanye solidaritas sudah dilakukan Yayasan Selamatkan Yaki, Pusat Penyelamatan Tasikoki, Animal Friends Manado Indonesia (AFMI) dan KMPA Tunas Hijau Airmadidi di Pasar Tomohon untuk meningkatkan pemahaman tentang perdagangan ilegal daging satwa liar.

Kampanye menyuarakan kepada orang-orang tentang Yaki dan spesies lain yang dilarang untuk dijual di pasar-pasar.

“Hal ini akan dilakukan secara berkesinambungan untuk menghentikan perdagangan daging ilegal di Sulawesi Utara.Indonesia telah berkomitmen untuk mengakhiri perdagangan satwa liar. Jika kalian melihat perdagangan satwa liar ilegal, ingatlah untuk mengambil foto, informasi, dan laporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Ingat untuk memberi tahu keluarga dan teman kalian untuk tidak membeli daging hewan yang dilindungi,” imbau Duta Yaki, Khouni Lomban-Rawung.

Dikatakan Ketua TP-PKK Bitung ini, organisasi yang tergabung dalam kampanye ini adalah solidaritas untuk bumi yang bertujuan untuk melindungi sisa populasi Macaca Nigra (Yaki). (Claudia Rahim)