Dihadiri 47 Negara, Bahas Peluang Bisnis Ekowisata Bahari di Sulut

oleh -
Kepala Bappeda Ricky Toemandoek dan Kepala Biro Umum Clay Dondokambey mengikuti rapat dan video conference bersama 6 KBRI di Kantor Kemenlu. (ist)

MANADO-Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) bersama Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) mematangkan persiapan penyelenggaraan Archipelagic and Island States (AIS) Forum Startup and Business Summit yang akan dihadiri 41 negara pulau dan 6 negara kepulauan, Kamis (8/8/2019).

Pertemuan berlevel internasional tersebut akan berlangsung 30 Oktober hingga 1 November 2019. Kegiatan ini dinilai memberikan dampak positif sebagai wadah membuka peluang bisnis lewat sektor ekowisata bahari di Bumi Nyiur Melambai.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Kepala Biro Umum Setdaprov Sulut, Clay Dondokambey menghadiri rapat dan video conference bersama 6 KBRI (Tokyo, Manila, Canberra, Port Moresby, Wellingron dan Suva) mengenai persiapan teknis dan kedatangan delegasi di Kantor Kemenlu.

Toemandoek menjelaskan, AIS sendiri merupakan wadah yang digunakan untuk merangkul 41 negara pulau dan 6 negara kepulauan dari kawasan Pasifik Selatan, Karibia, Asia, Afrika, dan Eropa, serta Pembangunan kerja sama konkret dengan fokus pada empat area kolaborasi yakni blue economy, mitigasi perubahan iklim dan bencana, polusi laut akibat sampah plastik, dan good ocean and maritime governance.

Persiapannya terus dirampungkan bersama pemerintah pusat. Kegiatan internasional ini akan memberikan dampak yang sangat baik, terutama membuka peluang ekonomi baru di Provinsi Sulut,” ungkap Toemandoek.

Dia menjelaskan, sebagai informasi, publikasi dan pendaftaran peserta (delegasi dan exhibitor) bisa dilakukan melalui website: https://www.aisforum.org. Selain itu, bagi media dan visitor yang ingin berpartisipasi dalam AIS dapat melakukan registrasi terlebih dahulu melalui website resmi AIS tersebut sebelum diverifikasi panitia.

Adapun AIS kali mengangkat tema “ecotourism”. Tema ini diangkat karena dapat menampung tujuan ekologis dari kegiatan ini dan menggambarkan peluang ekonomi yang ditawarkan oleh sektor ekowisata bahari,” jelasnya.

Lanjut Toemandoek, acara yang bakal dihadiri seluruh pelaku dan rantai suplai industri ekowisata, baik dari sektor utama sampai pada sektor pendukung seperti startup atau bisnis pemula, investor, pemerintah dan sebagainya ini, memiliki manfaat yakni dalam segi transaksi, ekosistem, kerjasama dan pengetahuan.

Terkait startup, AIS Forum kali ini memberikan kesempatan startup dan market place baru untuk berkembang lewat startup & business summit,” jelasnya.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan pelaku ke-5 terbesar di dunia mengenai pertumbuhan startup, yakni 2.472 startups (untuk nomor satu di United States dengan 46.503 startups). Dalam pertumbuhannya, setidaknya ada 4 pemain startup Indonesia yang bersaing di dunia yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak.

Sebelumnya, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim) melalui Asisten Deputi (Asdep) Navigasi dan Keselamatan Maritim, Odo Manuhutu memaparkan, untuk rangkaian kegiatan yang terangkum dalam AIS Startup and Business Summit 2019 dibagi menjadi tiga agenda utama, yaitu pameran bisnis dan inovasi yang berfokus untuk menjembatani kerjasama antara para pelaku bisnis ekowisata dan memfasilitasi investasi dan transaksi antara investor dan bisnis ekowisata bahari.

Kemudian konferensi ekowisata bahari sebagai sarana peningkatan kapasitas dan tukar wawasan pelaku bisnis ekowisata bahari dalam penerapan blue economy di negara Forum AIS, serta pertemuan tingkat menteri dan pejabat tinggi forum AIS yang diagendakan akan berlangsung paralel dengan AIS Startup and Business Summit 2019,” paparnya.

Dia mengungkapkan, manfaat transaksi berupa terjadinya transaksi bisnis antara para peserta, baik bisnis, lembaga pembiayaan, dan investor lintas negara-negara anggota Forum AIS, manfaat ekosistem berupa terbangunnya ekosistem industri ekowisata bahari dengan prinsip-prinsip blue economy di negara-negara Forum AIS yang kelak dapat menjadi global champion.

Manfaat kerjasama berupa Terciptanya kerjasama yang kuat antar pelaku bisnis ekowisata bahari negara-negara Forum AIS baik bisnis pemula (startup), maupun sesama bisnis mapan dan manfaat pengetahuan berupa Terjadinya pertukaran pengetahuan dan peningkatan kualitas SDM yang dapat mendukung kemajuan industri ekowisata bahari negara-negara Forum AIS,” tandasnya. (rivco tololiu)