Sering Jadi Polemik, Masyarakat Perlu Tahu Proses Pemeriksaan Pasien di IGD

oleh -
Ilustrasi potret tenaga medis sedang merawat pasien Covid-19. (FOTO: Istimewa)

MANADO– Sejak 14 Maret 2020 lalu, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) telah diperhadapkan dengan masalah penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang kini telah menjadi pandemi global dan mengguncang dunia.

Penyakit yang awalnya terdeteksi dari Wuhan, China pada penghunjung tahun 2019 itu memang membuat semua orang kelabakkan, karena penyakit satu ini baru pertama kali dialami, sehingga masih banyak yang belum memahami dengan baik segala hal tentang penyakit ini.

Banyak istilah baru yang bermunculan dengan adanya Covid-19. Yang paling baru ialah istilah Suspek. Istilah ini diberikan kepada orang yang memiliki gejala mengarah ke Covid-19. Namun belakangan, banyak masyarakat yang ketika datang berobat di rumah sakit (RS) dengan gejala penyakit lain, kemudian dimasukkan ke dalam kategori ini.

Pemberian status sebagai Suspek tanpa tanda-tanda khas Covid-19 yakni infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) seperti batuk, pilek, demam, ataupun sesak napas hingga pneumonia, membuat banyak orang bertanya kenapa dirinya dinyatakan sebagai Suspek.

Menurut Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulut, dr Steaven Dandel, hal itu disebabkan karena saat ini spectrum dari gejala Covid-19 sudah sangat luas, sehingga diperlukan pemeriksaan tambahan seperti ronsen pada paru-paru.

“Jadi penuntun bagi dokter adalah foto ronsen dada (ronsen pada paru-paru), kalau ada gambaran pneumonia, (dinyatakan sebagai) Suspek, walaupun gejala yang ada tidak menonjol,” bebernya kepada wartawan koran ini beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, kata Dandel, selain melihat gambaran ronsen dada, hasil rapid test yang reaktif ketika diskrining (diperiksa) di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang ada di RS, merupakan salah satu cara untuk menetapkan pasien sebagai Suspek atau tidak. “Walaupun gejalanya tidak khas, langsung jadi Suspek,” imbuhnya.

Dirinya kemudian memberikan contoh kasus, dimana pernah ada kasus anak berumur 15 tahun yang masuk IGD karena mengalami patah tangan. Namun, ketika dilakukan ronsen dada, ternyata paru-parunya gelap.

“Tapi tidak ada gejala. Waktu di swab hasilnya positif (tertular Covid-19). Kalau dokter langsung masukkan ruang operasi untuk dibedah, kemungkinan besar dia dan dokter anastesi serta perawat pasti terjangkit (Covid-19) juga,” terangnya.

Kasus lain yang juga dikemukakan Dandel ialah di RSUP Prof Kandou, dimana telah banyak ibu hamil yang akan dilakukan operasi melahirkan, ternyata ketika diskrining, rapid testnya menunjukan hasil yang reaktif.

“Lalu kemudian di swab jadi positif (Covid-19). Coba bayangkan kalau tidak ditetapkan Suspek, berapa banyak dokter kandungan dan bidan di ruangan operasi yang akan terjangkit,” jelas Dandel.

Oleh sebab itu, pentingnya proses pemilahan pasien ketika datang di IGD, agar menghindarkan juga terjangkitnya para tenaga medis, yang tak dapat dipungkiri, tenaganya sangat diperlukan di saat pandemi seperti ini.

“Karena spektrum gejala Covid sangat luas,” singkat Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Sulut itu.  Terkait skrining pasien di IGD, berdasarkan penuturan Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUP Prof Kandou, dr Handry Takasenseran, di RSUP Prof Kandou dilakukan metode skrining secara bertahap, dimana yang pertama ialah triase primer atau pemilahan pasien oleh perawat.

“Mendeteksi gejala awal seperti demam atau panas, batuk, sesak. Kemudian skrining lanjutan oleh dokter. Ini ada pemeriksaan lanjutan dengan pemeriksaan foto ronsen paru dan laboratorium darah,” ungkapnya. Dari hasil skrining tersebut, kemudian akan ditentukan apakah orang tersebut dikategorikan sebagai Suspek, hingga Probable penyakit Covid-19 atau tidak.

Lebih khusus bagi mereka yang akan dilakukan tindakan operasi, bebernya, akan dilakukan ronsen paru-paru sebagai standar pemeriksaan, sebelum dilakukan anestesi atau pembiusan. “Kecuali ibu hamil tidak dironsen karena bahaya radiasi,” tukas dr Handry.

Adapun, guna menghindari para tenaga medis yang melakukan operasi agar tidak terpapar Covid-19, dr Handry menyebut bahwa pihaknya melakukan universal precaution atau kewaspadaan universal, dimana setiap tenaga medis menggunakan APD level 3.

“Kami melakukan universal precaution, untuk pasien operasi, semua nakes (tenaga kesehatan) memakai APD level 3,” ujarnya. Sekadar diketahui, Alat Pelindung Diri (APD) level 3 merupakan level tertinggi, dimana meliputi proteksi penuh, mulai dari masker, face shield atau pelindung wajah, handscoon, serta pakaian hazmat yang menutupi seluruh tubuh.

Oleh sebab itu pengetatan proses skrining di IGD diperlukan untuk menghindari para tenaga medis yang tengah berjuang, terpapar oleh penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 ini. Pun, kendati telah dilakukan skrining yang ketat, menurut dr Handry, masih bisa saja ada yang lolos dari skrining. “Memang beresiko kalau pasien tanpa gejala, bisa saja lolos skrining,” tutupnya. (Fernando Rumetor)