Cerita Penjual Saraba di Boulevard II: Pendapatan Belum Normal Karena Pandemi Covid-19, Tempat Usaha Hancur Disapu Banjir Rob

oleh -
Lukman Panigoro membagikan kisahnya sembari memperbaiki tempat usaha yang porak poranda dihantam banjir Rob pada Minggu (17/1/2021) malam. (Foto: KORAN SINDO MANADO/Fernando Rumetor)

FERNANDO RUMETOR

MANADO

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Ungkapan itu yang menggambarkan kondisi Lukman Panigoro, penjual Saraba di jalan Boulevard II, Kelurahan Sindulang Dua, Kecamatan Tuminting, Manado.

Pendapatan yang berkurang sejak pandemi Covid-19 yang melanda Kota Manado begitu ia rasakan. Apalagi dengan adanya kebijakan pengurangan jam buka operasional usaha hingga pukul 20.00 WITA. Belum normal pendapatan, Lukman diuji lagi dengan bencana banjir Rob yang terjadi di Kota Manado, Minggu (17/1/2021).

Penderitaannya pun kian bertambah kala harus menerima kenyataan bahwa tempat usahanya dihantam banjir ombak besar hingga hancur. Banjir Rob atau banjir air laut yang juga menerjang pesisir Kota Manado membuat banyak barang-barang untuk berusahanya hilang, bak tertelan air laut yang menyapu daratan pada sore hingga malam hari yang mencekam itu. “2018 lalu juga pernah begini (Banjir Rob), tapi yang hari Minggu kemarin ini yang paling parah,” ujarnya.

Sembari memperbaiki bangunan usaha kecil-kecilannya yang sudah hancur, ia bercerita kepada wartawan KORAN SINDO MANADO bahwa sejak ombak sudah mulai tinggi pada hari Minggu sore, dirinya memang sudah bersiap-siap untuk menutup lapak dagangan lebih awal dari biasanya. “Untuk kerusakan memang semua barang rusak. Semua penjual disini juga membuat kerangka untuk terpalnya, tidak ada yang tak rusak kerangkanya, semua kita buat baru lagi. Kecuali meja-meja ini yang lama, tapi kalau barang-barang juga kerangka tenda ini baru semua,” tutur Lukman.  Dirinya terlihat mencoba untuk tegar menghadapi kenyataan ini. Tak terlihat raut kesedihan terpancar dari wajahnya. Mencoba mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dan berserah kepada pencipta merupakan jalan terbaik yang diambil. “Ya mau bagaimana lagi, sudah terjadi kan pak,” ungkapnya.

“Barang-barang di kas juga sudah hanyut semua, tak tahu kemana. Seperti tas-tas, kompor, kursi, itu yang hilang semua, tak ada yang tersisa,” tambah Lukman. Terlihat juga sampah-sampah berbagai macam berserakan di belakang tempatnya berjualan yang berdekatan dengan salah satu cafe di Boulevard II.

“Sampah-sampah ini sebelumnya tak ada. Karena air dari banjir Rob mungkin yang membawa sampah-sampah ini. Air laut juga sampai di jalan depan ini. Waktu malam-malam sekira jam 24.00 WITA saya melihat banyak sampah seperti botol-botol itu di jalan, mungkin sudah dibersihkan pagi tadi,” tukas Lukman.

Ditanyakan terkait kerugian yang dialami, sejujurnya dia belum menghitung secara merinci. Akan tetapi sebagai masyarakat kecil, tentu sangatlah terasa berat sebab Lukman harus membeli lagi barang-barang untuk berjualan Saraba seperti kompor, gelas-gelas, hingga kursi yang telah tersapu ombak.

“Kalau kita orang kecil begini, terasa kalau Rp2-3 juta untuk belanja barang-barang baru lagi. Saya hanya bisa berharap agar pemerintah melihat keadaan kita, apalagi sekarang diwajibkan tutup jam 20.00 WITA. Kalau ada inisiatif pemerintah untuk membantu kita ya Alhamdulillah,” sebut pria paruh baya itu. Lukman pun menyebut bahwa sembari membenahi lapak, istrinya telah berbelanja kebutuhan untuk kembali berjualan. “Ya semoga mulai malam ini sudah bisa berjualan lagi, dan ombaknya tidak tinggi-tinggi lagi,” harapnya.