Cerita Warga Morea Tempuh 2 Kilo Meter Demi Signal Telefon Selular

oleh -
Hukum Tua Desa Morea Satu bersama sejumlah anak-anak kecil sedang mengakses jaringa telefon selular di sebuah lokasi berjarak sekira 2 KM dari pemukiman. (FOTO:Ist)

RATATOTOK – Regen Pantow sesekali harus mengerut dahi. Masih berseragam batik,  dirinya dibuat iba melihat sekelompok anak kecil duduk di bawah pohon sambil mengutak atik telefon selular. Betapa tidak, sebagai Hukum Tua desa Morea Satu Kecamatan Ratatotok kabupaten Minahasa Tenggara, Regen belum bisa memenuhi nasarnya menghadirkan provider telefon selular bagi warga Desanya.

Setiap harinya, warga Desa Morea Satu harus menempuh jarak 2 Kilo Meter dari kampungnya hanya demi menikmati signal telefon seluler. Era digital yang kini jadi kebutuhan masyarakat mengakses dunia luar, masih menjadi mimpi warga disitu.
“Jangankan untuk mengakses internet. Untuk SMS saja tidak bisa. Kalau ada warga mau berkunjung ke Morea Satu, jangan lupa beli signal dan bawa ke sini,” kata Regen sembari bercanda.
Selama ini dirinya merasa iri ketika sebagian besar orang dengan mudah berkomunikasi via daring. Termasuk mengakses informasi terbaru dunia luar. Sementara di desanya hanya bisa memanfaatkan telefon selular hanya untuk lokasi tertentu saja.
“Ya kalau tidak ada jaringan, hp dipakai untuk dengar lagu saja. Atau pun untuk foto-foto saja,” timpalnya.
Bukan tanpa usaha, Regen mengaku sudah berulang kali melakukan lobi dengan pihak provider. Hanya saja beberapa kendala teknis masih menjadi penghalang.
“Kalau dari mereka (Provider) memang tidak bisa langsung memenuhi apa yang kita minta. Ada hal hal teknis yang menjadi kendala,” terangnya.
Sulitnya mengakses jaringan telefon selular, diakui Regen terkadang ikut berimbas pada tugasnya sebagai Hukum Tua. Semisalnya soal informasi agenda pertemuan ataupun hal-hal urgen yang lewat pemberitahuan via telefon.
“Mau tidak mau, setiap haru saya harus mencari jaringan dilokasi-lokasi tertentu. Jaraknya lumayan bisa sampai dua kiloan. Kalau tidak begitu ya, saya tidak akan tahu informasi,” tukasnya.
Situasi pandemi Covid-19 diakuinya juga sangat menyulitkan warganya untuk berkomunikasi apalagi mengakses dunia luar. Demikian halnya dengan proses belajar mengajar yang awal Pandemi silam, mengharuskan anak-anak belajar sitem daring.
“Tidak ada sisten belajar daring. Saya bersyukur ketika bupati James Sumendap mengeluarkan sistem belajar bangsawan. Jadi belajarnya sistem daring dengan pembatasan. Nah bagaimana jadinya jika harus belajar via daring?,” Kata Regen.
Meski dengan kondisi tersebut, Regen mengaku tak menyurut semangat warganya untuk membangun desanya. Dirinya pun mengaku jika akan tetap mengupayakan agar jaringan seluler bisa masuk di desanya.
“Sambil berjuang menunggu, ada beberapa alternatif yang kita siapkan. Salah satunya dengan mengadakan internet portable. Mudah mudahan ini akan membantu,” timpalnya.
(Marfel Pandaleke)