Valentine’s Day Berpotensi Hambat Milenial Ikut Pemilu 2024

oleh -30 Dilihat
Ferry Daud Liando, Dosen Tata Kelola Pemilu Unsrat. (FOTO: Istimewa)

MANADO- Selasa (25/1/2022), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pemerintah dan penyelenggara pemilihan umum (Pemilu) telah menetapkan hari pencoblosan pemilu 2024 jatuh pada 14 Februari 2024.

Diketahui, Pemilu 2024 adalah untuk memilih presdien dan wakil presiden, DPR RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/Kota dan DPD RI. Pelaksanaan hari pencoblosan berbeda dengan Pemilu 2019 yang jatuh pada 17 April 2019. Dimajukannya jadwal pencoblosan lebih awal, salah satunya disebabkan agar tidak terlalu berhimpitan dengan pelaksanaan pilkada yang akan dilaksanakan pada 27 November 2024.

Jika tahapan akhir pemilu dan tahapan awal pilkada terlalu pendek, maka berpotensi akan melahirkan banyak masalah seperti kesiapan penyelenggara, baik dalam proses sengketa hasil pemilu dan penyiapan prduk hukum pilkada.

Penyiapan penyelenggara ad hoc, penyusunan daftar pemilih pilkada dan kegiatan lainnya. Namun demikian, menurut peneliti Kepemiluan Ferry Daud Liando, pilihan hari pencoblosan pemilu yang jatuh pada 14 Februari 2024 bukan berarti tanpa risiko.

14 Februari menjadi momen penting bagi para milenial karena dirayakan sebagai Hari Kasih Sayang atau Valentine’s Day. Perayaan ini biasanya dinikmati oleh anak-anak milenial sehingga berpotensi mereka tidak akan hadir dalam pemungutan suara.

“Tradisi dari tahun ke tahun, perayaan valentine sudah dirayakan sejak pagi hari karena sebagian besar merayakan di luar kota atau di tempat yang jauh dari tempat tinggal dimana terletak tempat pemungutan suara. Khusus untuk daerah Sulut, setiap 14 Februari diarayakan sebagai hari raya pristiwa patriotik merah putih. Pada 14 Februari 1946, para pejuang di daerah ini mengusir para penjajah belanda keuar dari Sulawesi Utara. Perayaan ini biasanya dirayakan oleh para pejuang dan keluarga pejuang yang hingga kini masih hidup,” ujar Dosen Tata Kelola Pemilu Unsrat tersebut.Redaksi

Dua momentum peryaaan ini, kata dia, perlu dibangun sebuah strategi oleh KPUD agar tidak menghambat para pemilih pemula untuk datang memilih termasuk pada veteran dan kelaurga pejuang. (Redaksi)