MANADO – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (KPw BI Sulut) mencatat pergerakan harga-harga secara umum di Sulawesi Utara (Sulut) menunjukkan adanya kenaikan tekanan inflasi sepanjang Desember 2022.
“Estimasi KPw BI Sulut, inflasi Sulut tercatat sebesar 0,75 persen (month to month) atau 4,27 persen (year on year), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 5,51 persen (yoy),” kata Kepala KPw BI Sulut Andry Prasmuko, Selasa (3/1/2023).
“Hal ini dipengaruhi oleh inflasi Kota Manado yang tercatat sebesar 0,66 persen (mtm) dan Kota Kotamobagu yang mengalami yang inflasi sebesar 1,38 persen (mtm),” sambungnya dalam keterangan resmi yang diterima.
Secara tahunan inflasi Kota Manado tercatat sebesar 4,00 persen (yoy) dan merupakan yang terendah ke-5 dari 90 kota pencatatan inflasi. Sementara inflasi tahunan Kota Kotamobagu tercatat sebesar 6,03 persen (yoy).
Komoditas beras sendiri, lanjutnya, telah mendorong inflasi di Manado dan Kotamobagu dengan kontribusi sebesar 0,17 persen (mtm) terhadap inflasi Sulawesi Utara.
“Meskipun berdasarkan pemantauan BI, pasokan cenderung stabil di tengah terbatasnya produksi imbas beberapa sentra belum memasuki masa panen,” papar Andry.
Secara nasional, kenaikan harga beras ini didorong oleh meningkatnya harga gabah di tingkat petani dan penggilingan.
Komoditas strategis bawang merah, rica/cabai rawit, dan tomat (Barito) juga mendorong inflasi Sulut dengan total andil 0,329 persen (mtm).
Komoditas tomat sendiri mencatatkan kenaikan IHK dari 53,73 ke 175,37 atau sebesar 226,39 persen (mtm) di Kota Manado, dan merupakan yang tertinggi di Indonesia.
“Berdasarkan informasi yang kami himpun di Pasar Bersehati Manado, pasokan tomat menjelang Hari Raya Natal cenderung berkurang sehingga menyebabkan lonjakan harga. Curah hujan tinggi juga diperkirakan menjadi penyebab tidak optimalnya panen tomat di Sulut,” ungkapnya.
Sementara itu, komoditas emas perhiasan sebagai komponen inflasi inti juga tercatat inflasi dengan andil 0,03 persen (mtm) di Kota Manado dan 0,01 persen (mtm) di Kotamobagu.
“Penyebabnya adanya peningkatan permintaan masyarakat menjelang HBKN Nataru dan meningkatnya harga emas dunia,” papar Andry.
Tarif angkutan udara sebagai komponen inflasi yang diatur pemerintah juga telah mendorong inflasi di Kota Manado dengan andil 0,03 persen (mtm), hal ini terjadi sesuai dengan pola historis di Sulawesi Utara,” bebernya.
Lanjut dia, terjaganya kondisi perairan menyebabkan beberapa komoditas perikanan mengalami deflasi seperti ikan deho dan ikan malalugis di Manado, dan ikan selar di Kotamobagu.
Beberapa komoditas perlengkapan pribadi juga mengalami deflasi seperti sepatu, sandal kulit, dan celana panjang jeans, yang ditengarai didorong oleh berbagai diskon dari ritel pada periode HBKN Natal dan Tahun Baru. (Fernando Rumetor)


Tinggalkan Balasan