Mengacu pada hasil Sensus Ekonomi 2016, Aidil memaparkan bahwa struktur usaha di Sulawesi Utara saat itu didominasi oleh usaha mikro dan kecil, yakni sebesar 98,95 persen.
Persebaran usaha terbanyak berada di Kota Manado dengan 62.638 usaha, disusul Kabupaten Minahasa sebanyak 40.900 usaha, dan Kabupaten Minahasa Selatan sebanyak 32.069 usaha.
“Sebagian besar usaha tersebut bergerak di sektor perdagangan, yakni sebesar 45,07 persen. UMKM di sektor perdagangan sebesar 48,42 persen,” ungkapnya.
Aidil kemudian mempertanyakan kondisi perekonomian setelah 10 tahun terakhir, seiring berkembangnya transportasi online, perdagangan e-commerce, ekonomi digital, dan ekonomi kreatif.
“Apakah terjadi pergeseran sektor dominan dan muncul sektor potensi baru, semuanya akan terjawab pada saat Sensus Ekonomi 2026,” katanya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan Sensus Ekonomi 2026 ditentukan oleh tiga hal utama, yakni berkualitas, bermakna, dan berdampak. Berkualitas berarti response rate tinggi, isian data lengkap, akurat, relevan, dan dapat dipercaya.
Bermakna karena memberikan manfaat bagi perencanaan dan evaluasi pembangunan serta menjadi dasar penyusunan kebijakan.
Sementara berdampak berarti terjadi peningkatan ekonomi daerah karena kebijakan pembangunan didasarkan pada data yang akurat dan mutakhir.
“Potensi ekonomi daerah bisa dipetakan dari Sensus Ekonomi 2026,” jelas Aidil seraya menegaskan bahwa kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci sukses pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.
Dukungan diperlukan dari kementerian, lembaga, pemerintah daerah, pelaku usaha, serta masyarakat melalui partisipasi aktif dalam pengisian kuesioner dan pemberian data yang jujur dan terbuka.
“Sensus Ekonomi 2026 adalah milik kita semua. Ketika kita memahami pentingnya sensus ekonomi, kita akan menjadi bagian dari gerakan bersama membangun data ekonomi bangsa, khususnya di Sulawesi Utara,” tutupnya. (nando/*)


Tinggalkan Balasan