Dari sisi sumber pertumbuhan, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial memberikan kontribusi terbesar sebesar 1,39 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Sulut.

Disusul sektor Konstruksi sebesar 1,25 persen dan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 0,50 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 2,44 persen.

Komponen ini tumbuh 6,81 persen secara tahunan, didorong peningkatan impor barang modal serta aktivitas pembangunan dan perbaikan infrastruktur, hunian, dan gedung perkantoran.

Percepatan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih juga turut mendukung peningkatan investasi tersebut.

Adapun secara struktur, perekonomian Sulawesi Utara masih didominasi lima lapangan usaha utama, yakni Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 19,69 persen, Perdagangan sebesar 12,98 persen, Konstruksi 12,04 persen, Transportasi dan Pergudangan 11 persen, serta Industri Pengolahan 10,65 persen.

Meski demikian, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami kontraksi 2,03 persen secara tahunan.

Kondisi ini dipengaruhi cuaca ekstrem akibat fenomena Super El Niño yang memicu kekeringan berkepanjangan dan mengganggu produksi serta produktivitas sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan.

Di sisi lain, neraca perdagangan luar negeri Sulut masih mencatatkan surplus sebesar 248,12 juta dolar AS, meskipun mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Watekhi menegaskan, secara keseluruhan perekonomian Sulawesi Utara masih mampu mempertahankan pertumbuhan positif hingga Triwulan III 2026.

Kinerja sejumlah sektor strategis, terutama kesehatan, konstruksi, akomodasi dan makan minum, serta investasi menjadi penopang penting bagi aktivitas ekonomi daerah. (nando)