Oleh: Gladys Runtukahu

EKONOMI Sulawesi Utara hari ini tidak bergerak dalam satu arah, melainkan terbelah seperti huruf K. Satu kaki naik — terlihat dari geliat di bidang kuliner, warung kopi yang tetap ramai dan lapangan padel yang terus bermunculan. Kaki yang lain tertekan — terlihat dari keluarga yang harus penuh perhitungan dalam mengelola dapur, dan menyisihkan biaya sekolah setiap bulan.

“Ekonomi lagi susah.”

Kalimat ini mungkin menjadi salah satu yang paling sering terdengar dalam beberapa bulan terakhir. Harga kebutuhan pokok naik, biaya pendidikan meningkat, pengeluaran rumah tangga bertambah, sementara penghasilan sebagian masyarakat tidak mengalami kenaikan yang berarti.

Namun, jika berjalan sore di pusat keramaian di Kota Manado, pemandangan yang terlihat justru menghadirkan pertanyaan lain. Warung kopi masih dipenuhi pengunjung, di beberapa lokasi malah nampak ramai. Lapangan padel terus bermunculan, dan di media sosial banyak orang membagikan aktivitas olahraga yang belakangan sedang naik daun ini.

Restoran baru masih dibuka. Sekolah-sekolah swasta dengan biaya pendidikan yang tidak murah tetap memiliki peminat. Bahkan pusat kebugaran, klinik kecantikan, hingga tempat hiburan masih menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan sederhana. Benarkah ekonomi Sulawesi Utara sedang sulit? Atau sebenarnya kita sedang melihat dua wajah ekonomi yang berbeda dalam waktu yang bersamaan?

Jawabannya tentu tidak sesederhana “ya” atau “tidak”.

Secara makro, kondisi ekonomi Sulawesi Utara masih menunjukkan tren yang positif. BPS Sulut mencatat ekonomi daerah ini pada triwulan I 2026 tumbuh 5,54 persen secara tahunan — sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen pada periode yang sama, namun tetap tergolong solid di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi justru berasal dari penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman, yang tumbuh 20,85 persen.

Artinya, aktivitas masyarakat di sektor kuliner, restoran, warung kopi, hotel, hingga pariwisata memang masih menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah. Tapi angka pertumbuhan ekonomi tidak selalu menggambarkan kondisi setiap rumah tangga.

Di dunia ekonomi, pola semacam ini punya nama tersendiri: ekonomi berbentuk K (K-shaped economy). Istilah ini pertama kali populer saat pandemi Covid-19, ketika ekonom Peter Atwater menggambarkan bagaimana pemulihan ekonomi tidak berjalan seragam, melainkan terbelah menjadi dua arah seperti dua kaki huruf K. Satu kelompok — biasanya pemilik aset, pekerja berpenghasilan tinggi, dan sektor berbasis teknologi atau jasa premium — bangkit lebih cepat dan terus menanjak.

Kelompok lain — pekerja bergaji tetap atau harian, sektor padat karya, serta rumah tangga tanpa aset untuk diandalkan — pemulihannya lambat, bahkan tertekan lebih dalam oleh inflasi dan biaya hidup. Grafiknya, kalau digambar, memang membentuk huruf K: satu garis naik, satu garis turun, dari titik keberangkatan yang sama. Sulut sepertinya sedang memperlihatkan gejala serupa dalam skala yang lebih kecil: roda ekonomi bergerak, tapi belum tentu seluruh masyarakat ikut menikmati laju itu dengan porsi yang sama.