Korban Kekerasan Seksual di Manado Meninggal, Kapolda: Kita Akan Lakukan Upaya Intensif Ungkap Kasus Ini

oleh -18 Dilihat
Press Conference di RS Prof Kandou Malalayang Manado. (foto: istimewa)

MANADO – Seorang perempuan berinisial CT yang dirawat di RS Kandou Malalayang sejak 29 Desember 2021, yang diduga mengalami kekerasan seksual akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Senin (24/1/2022) pukul 07.25 Wita.

Menurut penjelasan Direktur Utama RSUP Prof Kandou Malalayang Manado Dr. dr. Jimmy Panelewen, meninggalnya pasien CT ini disebabkan karena penyakit kanker darah atau leukimia yang dideritanya.

“Kematian disebabkan karena pasien mengalami kanker darah,” ujarnya saat Press Conference di RS Prof Kandou Malalayang Manado, Senin (24/1/2022) siang di hadapan para wartawan.

Ia menjelaskan, ada 2 hal yang berbeda, antara dugaan tindak pidana kekerasan seksual dan pasien mengalami kanker darah.

“Justru kematian korban disebabkan karena pasien mengalami kanker darah,” jelas dr. Jimmy.

Ditambahkan oleh dr. Joel, dokter jaga yang menerima pasien CT saat datang pada tanggal 29 Januari 2021 pukul 01.00 Wita, pasien CT datang dengan keluhan perdarahan dan disertai membawa surat permintaan visum dari kepolisian.

“Di saat pemeriksaan saya temukan ada lebam-lebam di sebagian besar tubuh sampai ke area dekat kemaluan disertai dengan adanya perdarahan di sekitar kemaluan. Kami juga melanjutkan dengan VER dan hasilnya ditemukan adanya robekan di selaput darah, dimana robekan yang sifatnya sudah lama,” terangnya.

Pasien ini kemudian lanjut rawat di Bagian Anak di ruang ICU, karena kondisinya berada di bawah penurunan kesadaran, dimana HB-nya hanya 1,8 dan itu akibat perdarahan yang sudah berlangsung lama.

“Pasien dilanjutkan perawatan di Bagian Anak, dan ada temuan-temuan diduga mengarah pada penyakit leukemia. Dan itu yang kami pikirkan sebagai penyebab perdarahan di vagina atau haid tidak bisa berhenti, perdarahan berlangsung terus tidak berhenti akibat ada kelainan darah,” ujarnya.

Terkait robekan di selaput darah, Tim Dokter juga mengatakan selain aktifitas seksual, hal itu juga bisa disebabkan karena aktifitas lainnya seperti olah raga atau karena mengalami kecelakaan/terjatuh. Tim Dokter juga memantau lebam-lebam yang dialami pasien berpindah-pindah, sehingga disimpulkan pasien CT mengalami leukemia.

Kondisi pasien sebelum meninggal, mengalami demam, pucat dan mata kabur, secara menyeluruh terjadi perdarahan di bola matanya dan sudah diberikan transfusi darah namun kondsi pasien semakin memburuk dan dinyatakan meninggal.

Sementara itu, Kapolda Sulut Irjen Pol Mulyatno, didampingi Kabid Humas Kombes Pol Jules Abraham Abast dan Kapolresta Manado Kombes Pol Julianto Sirait yang hadir dalam press conference ini menyampaikan belasungkawa dan turut berduka cita yang dalam.

“Saya Kapolda Sulawesi Utara menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya almarhumah adik CT. Ini merupakan tantangan buat kami untuk mengungkap kasus dugaan kekerasan seksual ini,” ujar Irjen Pol Mulyatno.

Polda Sulut dan Polresta Manado katanya menaruh perhatian yang sangat serius terhadap kasus ini.

“Dan kita akan terus melakukan upaya-upaya intensif guna mengungkap kasus ini,” katanya.

Press Conference ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas P3A Daerah Sulut, dr Kartika Devi Tanos dan 3 dokter ahli yang melakukan pendampingan perawatan terhadap adik CT. (Redaksi)