BI Sulut Antisipasi Tekanan Inflasi Jelang Idul Fitri-Pengucapan Syukur

oleh -
Kepala perwakilan bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat bersama Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey optimis inflasi Sulut terjaga. Istimewa

MANADO—Bank Indonesia menilai,  perayaan Idul Fitri 1440 H yang berdekatan dengan pengucapan syukur di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) bisa mendorong terjadinya inflasi.

Kepala perwakilan bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat mengatakan, meskipun tren inflasi di 2019 menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Namun demikian,  tidak boleh lengah dan cepat puas diri.

“Perayaan Idul Fitri 1440 H yang akan jatuh pada bulan Juni, Perayaan Pengucapan Syukur di tingkat kabupaten dan kota yang akan diselenggarakan di sepanjang Triwulan III serta perayaan Natal dan Tahun Baru 2020 adalah momentum-momentum yang harus senantiasa kita kawal agar inflasi terkendali pada level yang rendah dan stabil,” jelas Hutabarat, Selasa, 21/5/2019.

Hutabarat mengatakan, tantangan utama yang  hadapi adalah menjaga inflasi komoditas pangan strategis di Suut yaitu komoditas bawang, cabai dan tomat (Barito). Komoditas ini dinilai dapat memberikan tekanan inflasi yang cukup tinggi pada kurun waktu tiga tahun terakhir.

Selain itu, kenaikan harga komoditas angkutan udara yang juga secara umum berimplikasi kepada peningkatan biaya logistic, dapat memberikan tekanan khusus kepada inflasi di Sulut.

Ke depan, koordinasi intensif dan sinergi antar dinas/Instansi terkait yang sudah sangat baik dan efektif dalam mengendalikan inflasi Sulawesi Utara perlu dipertahankan dan ditingkatkan, dengan berpedoman pada prinsip 4K, yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi untuk membentuk ekspektasi.

Karena itu, kerjasama dan sinergi yang baik antar lembaga, khususnya melalui forum Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), menjadi kunci keberhasilan menjaga inflasi di angka yang rendah dan stabil tersebut. Namun demikian, kita tetap harus waspada mengingat banyaknya tantangan dalam pengendalian ke depan yang masih harus kita hadapi.

“Peran penting TPID dalam pengendalian inflasi juga dapat dilihat dari semakin membaiknya inflasi tahunan Sulawesi Utara. Inflasi Sulawesi Utara tahun 2001 hingga tahun 2010 secara rata-rata mencapai angka 8,65% (yoy),  namun, setelah TPID dibentuk pada tahun 2010, rata-rata Inflasi Tahunan tersebut turun hingga hampir 50%setengahnya ke angka 4,59% (yoy),” tuturnya. (stenly sajow)