Gubernur Beber Sudah Delapan Sekolah Bermasalah yang Ditutup

oleh -
Gubernur Sulut Olly Dondokambey saat memberikan penjelasan kepada para awak media di Kantor Gubernur Sulut. (Rivco Tololiu)

MANADO – Gubernur Olly Dondokambey sangat prihatin tragedi di SMK Ichthus Manado setelah kasus pembunuhan yang menewasakan Alexander Warupangkey guru agama di sekolah tersebut ditangan muridnya sendiri.

“Kasus seperti ini harus menjadi yang terakhir di Sulut. Ini tidak boleh lagi terjadi,” ungkap Olly di Kantor Gubernur Sulut,Rabu (30/10/2019).

Dia mengakui, riwayat serta kondisi SMK Ichthus Manado sudah dilaporkan tim investigasi dari Dinas Pendidikan Daerah (Dikda) Sulut kepada pihaknya. “Dari hasil investigasi itu, saya menilai sekolah tersebut memang sangat bermasalah dan layak untuk dibekukan,” tukasnya.

Olly membeber, SMK Ichthus Manado sudah menjadi sekolah kedelapan yang ditutup. Menurutnya, sudah ada sekolah-sekolah lain yang kondisinya tidak beres dibekukan. “Sekolah itu sudah yang kedelapan. Ada tujuh sekolah lainnya yang izinnya dibekukan,” tukasnya.

Gubernur mendorong pihak terkait dalam pengawasan sekolah untuk memaksimalkan dan jelih melihat manajemen atau proses belajar mengajak di setiap sekolah.

“Kalau tidak sesuai standard pastinya tidak baik untuk dijadikan tempat belajar dan mengajar. Ini kiranya dapat menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Kepala Dikda Sulut Grace Punuh mengatakan, hasil investigasi memang menyimpulkan sekolah tersebut sangat bermasalah.

“Untuk sementara, SMK Ichthus dibekukan,” beber Punuh.

Dia menjelaskan, berbagai sejumlah keterangan tim investigasi, SMK Icthus menampung banyak siswa bermasalah, atau siswa pindahan dari sekolah lainnya.

“Termasuk pelaku penusukan guru FL, yang merupakan siswa pindahan dari SMA 10,” ungkapnya.

Lanjut Punuh, tim investigasi menemukan sering mendapati siswa merokok tanpa takut dimarahi guru di sekolah itu. Meskipun beberapa guru sering memberikan nasihat.

“Parahnya, ada juga laporan dua siswa di sekolah itu hamil. Tapi ini juga harus ditelusuri lebih lanjut,” terangnya.

Dia menjelaskan, SMK Ichthus diberikan izin operasional sejak 2017. Tetapi, sekolah itu tidak menjalankan proses belajar dan mengajar sesuai standar.

“Siswanya datang telat, dan sekolah tidak pernah melangsungkan upacara bendera. Ada juga laporan gaji guru tidak lancar, karena banyak guru hanya mengajar sebagai tenaga pembantu di sekolah tersebut,” tuturnya.

Punuh mengakui, keputusan membekukan izin dan operasional sekolah berdampak pada 40 siswa sekolah tersebut berhenti mengenyam pendidikan di SMK Ichthus.

“Mereka juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Kita akan memfasilitasi para siswa tersebut supaya bisa pindah ke sekolah ikut paket C,” ujarnya.

Meski begitu, dia mengatakan, keputusan ini tentunya harus sepengetahuan para orang tua pelajar tersebut. Pihaknya akan membicakaran langsung dengan mengundang para orang tuan siswa di SMK Ichthus.

“Tapi, para siswa tersebut sebelum pindah harus jalan tes dulu. Kita lihat perkembangan, termasuk psikologinya,” paparnya. (rivco tololiu)