Halangi Tugas Wartawan, Oknum Karyawan Bank di Manado Dipolisikan

oleh
Tampa, ruang SKPT Polresta Manado tempat membuat laporan polisi. (foto: istimewa)

MANADO – Perlakuan kurang menyenangkan dialami seorang wartawan saat sedang melaksanakan kegiatan jurnalistik di lapangkan.

Diketahui Jurnalis Metro TV, Amanda Komaling mendapat perlakuan tidak mengenakkan saat sedang melakukan peliputan kasus ditemukannya Probable Omicron, varian baru Covid-19.

Ia dan rekan kerjanya diusir oleh beberapa karyawan salah satu bank di dalam kawasan Manado Town Square (Mantos).

Kejadian itu kemudian dilaporkannya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Manado, Sabtu (18/12/2021) malam.

Seperti dalam laporan aduan tersebut, Amanda menyebutkan, kejadian pengusiran itu saat ia akan melakukan siaran langsung (Live) terkait salah satu hotel yang dijadikan tempat karantina para penumpang pesawat yang ditemukannya 3 Warga Negara Asing (WNA) asal Tiongkok yang dinyatakan probable Omicron.

“Pengusiran itu terjadi Jumat kemarin sekitar jam lima sore,” ujar Amanda yang juga Koordinator Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Wilayah Sulawesi.

Ia menceritakan, siaran langsung yang awalnya dilakukan di halaman parkiran, terpaksa digeser ke koridor (teras) ruko, karena hujan.

Saat sedang dalam pengaturan kamera dan tripod karena telah terhubung dengan studio Metro TV Jakarta, insiden pengusiran itu terjadi.

Seorang security Bank Syariah Indonesia (BSI) Kantor Cabang Manado datang dan menyuruh untuk berpindah tempat.

Berbagai alasan dikeluarkan agar ia dan rekannya bergeser dari depan kantor tersebut.

“Kata security, lokasi berdiri tepat di depan kamera CCTV kantor BSI sehingga akan dipertanyakan oleh pimpinan,” kata Amanda.

Usiran pertama itu membuatnya bergeser beberapa langkah. Sempat berpindah namun tidak mendapatkan latar belakang yang pas karena terhalang motor-motor yang diparkir.

Tapi setelah mendapatkan lokasi yang tepat, ia malah kembali diusir yang kedua kalinya oleh seorang karyawan perempuan yang kemudian diketahui berinisial PK.

Alasannya mobil kantor BSI berwarna biru yang identik dengan bank pelat merah itu masuk dalam jangkauan kamera sehingga akan diketahui oleh nasabah.

“Nasabah nantinya akan tahu apabila kantor mereka berada di depan penginapan isoman Covid-19. Mereka juga bilang tidak minta ijin dulu,” kata mantan Ketua IJTI Sulut dua periode ini.

“Terakhir tripod kamera hendak dipindahkan security, padahal siaran langsung akan dimulai dalam hitungan detik saja,” ungkapnya.

Karena upaya pemindahan itu membuatnya kembali bergeser ke arah parkiran dan melakukan siaran langsung di bawah gerimis hujan.

“Saya merasa terintimidasi dan terganggu pada saat saya sedang bertugas menjalankan tugas jurnalistik,” tandas Amanda.

Namun setelah usai melakukan siaran langsung, dan ingin mengklarifikasi upaya pengusiran serta upaya menghalangi kerja jurnalistiknya tersebut ke dalam kantor BSI Cabang Manado, PK malah menghasut rekan-rekannya untuk merekam perdebatan menggunakan handphone.

Dalam laporan aduan tersebut, terlapor PK cs, diadukan dengan Pasal 18 ayat (1) Undang-undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang menyatakan: “Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp.500.000.000,00.

Sementara itu, upaya konfirmasi dilakukan sejumlah wartawan ke BSI Kantor Cabang Manado. Meski bertemu dengan Kepala Kantor, Rivai Adi Wijaya, namun enggan memberikan konfirmasinya untuk dimuat dalam pemberitaan. (deidy wuisan)