“Namun hari ini, oleh karena kemurahan Tuhan, SMP Negeri 8 Manado memberikan solusi praktis atas dilema tersebut. Solusinya bukan dengan melarang atau meniadakan hak bahagia anak-anak kita, tetapi bagaimana kita mengelola sumber daya keluarga besar ini,” ucapnya.
“Orang tua, Komite Sekolah dan pihak SMP Negeri 8 Manado telah membuktikan bahwa di tengah regulasi yang abu-abu, komunikasi yang sehat dan jernih, kerja tanpa pamrih adalah kuncinya,” kata Jeane, yang mengakhiri laporannya dengan pantun motivasi dan disambut meriah hadirin.
Kepala Sekolah SMP Negeri 8 Manado, Tineke Timpaulu S.Pd, mengapresiasi seluruh orang tua dan wali siswa kelas IX yang telah bergotong royong secara sukarela demi mewujudkan acara penamatan ini.
“Bersyukur pada Tuhan, acara penamatan ini berhasil dilaksanakan dengan sukses, sederhana namun sangat berkesan,” kata Kepsek Tineke.
Prosesi penamatan sendiri berlangsung penuh haru. Secara bergilir per dua kelas, para siswa memasangkan bunga dada kepada orang tua, lalu menuju panggung untuk pengalungan selendang penamatan serta jabat tangan dengan Kepala Sekolah dan jajaran wakil kepala sekolah.
Sekretaris Panitia Charensia Repi S.Si menjelaskan, keterbatasan aula yang hanya mampu menampung 400 orang menjadi tantangan tersendiri.
“Puji Tuhan, orang tua dan siswa bisa memahami kondisi yang ada dan acara penamatan SMP Negeri 8 Manado berakhir dengan sukses,” pungkasnya. (nando/*)


Tinggalkan Balasan