Satu Suara! Pemuda Sulawesi Utara Harus Perangi Narkoba

oleh
Foto bersama usai Forum Mingguan KORAN SINDO MANADO dengan Tema "Pemuda Sulut, Berprestasi dan Perangi Narkoba". (Foto: Marcos Budiman)

MANADO– Sulawesi Utara (Sulut) rawan peredaran narkoba dan zat adiktif. Parahnya, pemuda yang adalah harapan dan tulang punggung bangsa, menjadi sasaran empuk peredaran barang tersebut.

Karena itu, Kamis (25/10/2018), Forum Mingguan (FM) KORAN SINDO MANADO (KSM) mengangkat tema “Pemuda Sulut, Berprestasi dan Perangi Narkoba”.

Hadir dalam FM yang dimoderatori Claudia Rahim, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulut dan Kota Manado, tokoh pemuda Sulut, pemuda berprestasi, organisasi pemuda gereja, masjid, dinas pendidikan, dinas pemuda dan olahraga, perwakilan Ikatan Nyong dan Noni Sulut, serta BPC Perhumas Manado.

Kepala BNN Kota Manado AKBP Eliasar Sopacoly menjelaskan, narkoba masuk dalam tiga masalah besar yang dihadapi Bangsa Indonesia termasuk korupsi dan terorisme.

“Narkoba ini adalah musuh kita bersama, karena barang terlarang ini dapat merusak jiwa manusia bahkan bisa berujung kematian,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan Eliasar, Sulut merupakan salah satu daerah yang rawan pengedaran narkoba. Sebab Sulut memiliki banyak pelabuhan kecil dan jalur tikus yang bisa menjadi ruang bagi pengedar.

Di Manado sendiri, pengedar narkoba sudah menjamur hingga wilayah kelurahan bahkan lingkungan. “Manado sudah sangat ekstrem, sudah luar biasa, pengguna zat aditif sudah masuk ke sekolah-sekolah. Bahkan ada satu SMP ada 72 orang yang sudah menggunakannya. Misalnya eha-bond, komix, antimo, juga minuman beralkohol,” paparnya.

Karena itu, jelas dia, perlu peran serta berbagai elemen masyarakat termasuk orang tua. “Peran aktif dari berbagai kalangan perlu di tingkatkan, khususnya orang tua. Kita mulai dari keluarga dulu baru lingkungan,” ujarnya.

Kepala Seksi Pencegahan BNNP Sulawesi Utara, Melky Tuwanakotta menerangkan, pihaknya telah berupaya menurunkan ranking secara nasional pengguna narkoba di Sulut. “Tahun 2016 jumlah pengguna narkoba ada sekira 42 ribu orang, kita bersyukur di tahun 2017 jumlahnya menurun di angka 30 ribuan,” tuturnya.

Karena itu, dia berharap gerakan antinarkoba yang digalakkan di lintas agama, harus ditingkatkan lagi. Sebab dengan cara ini dinilainya cukup ampuh. “Tempat ibadah adalah lokasi yang strategis untuk melakukan pengarahan untuk menjauhi narkoba,” paparnya.

Sementara, Tokoh Pemuda Sulut, Piet Pusung mengatakan, untuk memagari anak muda dari narkoba, BNN perlu melakukan sosialisasi yang sesuai bagi kaum millennial. “Saya kira, kalau hanya sosialisasi semata tidak akan mempan di kalangan anak muda. Harusnya dibuat pendekatan yang diingikan anak muda, tidak monoton pada sosialisasi yang diangkap konvensional,” katanya.

Wakil I Noni Sulut 2018 Fabiola Kaunang mengatakan, sebagai generasi muda pihaknya mendukung kegiatan antinarkoba dengan mengajak kaum millennial membuat gerakan. “Anak muda bisa menjadi influencer bagi yang lain, dan ini yang kami lakukan, gerakan di sosial media juga akan memberikan dampak sama seperti yang dilakukan di lapangan,” tuturnya.

Wakil II Nyong Sulut, Noval Rompis memberikan saran agar BNN dan pemerintah melakukan sosialisasi dan ajakan menghindari narkoba dengan cara yang berbeda dari biasanya. Utamanya untuk mengajak pengguna yang terkesan pendiam. “Banyak cara yang mesti dilakukan, saat ini anak muda gemar main game, kenapa tidak dengan cara itu untuk masuk merangkul pemuda agar tidak terkontaminasi dengan obar terlarang,” jelasnya.

Abdul Malik, atlet asal Sulut peraih medali emas di Asian Games mengatakan, perlu ada aktivitas positif untuk menghindarkan generasi muda dari godaan narkoba dan sejenisnya. Menurutnya, ajakan dan seruan untuk menghindari narkoba dengan berolahraga sangat penting untuk diupayakan bersama.

 

“Seperti kami atlet, tentu dituntut untuk rajib berlatih dan berolahraga. Aktivitas tersebut menghindarkan kami dari Narkoba. Pemerintah juga diharapkan dapat memperhatikan sarana dan prasarana penunjang olahraga tersebut,” ujar Abdul yang mengaku sempat CEDERA namun tetap semangat mengejar impian.

Ketua Komisi daerah pemudah GPdI Sulut, Pdt Earl Mamahani mengatakan, pihaknya mempunyai cara tersendiri untuk memerangi narkoba di kalangan generasi muda. Cara tersebut dilakukan dengan pendekatan kerohanian. “Narkoba menjadi konsen kita, karena itu kami lakukan pendekatan kepada pengguna, kami berikan bimbingan, kami ajak mereka ibadah. Karena bagi kami mereka adalah jiwa-jiwa yang harus diselamatkan,” terangnya.

Ketua Pemuda Sinode GMIM, Pricilia Tangel mengatakan, ada tiga tipe pemuda. “Pertama, ada pemuda yang ingin tahu. Kedua ada pemuda yang tidak tahu, dan ketiga ada pemuda yang tidak mau tahu atau tidak peduli,” ujarnya.

Jelas dia, menjadi tantangan adalah, ada banyak sekali pemuda yang tidak ingin tahu atau acuh tak acuh dengan setiap pengarahan dan bimbingan. Karena itu, pihaknya berupaya melakukan berbagai kegiatan dengan terus menerus menyuarakan tidak untuk narkoba.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulut Ramang Muhamad mengatakan, pihaknya punya cara tersendiri untuk membentengi anak muda dari penggunaan obat terlarang. Yakni lewat jalur pendidikan. “Kami lakukan pendekatan dengan pendidikan, cara ini juga dapat membuat mereka menjadi anak berprestasi,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Daerah (Disdikda) Provinsi Sulut Grace Punuh, melalui Kabid Pendidikan Dasar (Dikda) Reni Rumengan mengatakan, peredaran dan penggunaan narkoba khususnya para pelajar menjadi perhatian pihaknya, karena merupakan ancaman bagi masa depan generasi muda di Sulut. “Narkoba ini sangat berbahaya dan menjerumuskan. Kita selalu sampaikan lewat pihak sekolah kepada para pelajar untuk menghindari hal-hal yang merugikan serta mengancam nyawa tersebut,” kata Rumengan.

Legislator DPRD Sulut, James Tuuk menilai, penyalagunaan Narkoba memang sudah menjadi ancaman, karena menyasar banyak korban yang umumnya berusia produktif.

Menurut dia, hal ini mesti menjadi perhatian serius bersama, terutama peran keluarga, pemerintah, tokoh agama, serta stakeholder terkait untuk mengantisipasinya.
Kata Tuuk, selain Narkoba, banyak juga populer saat ini penggunaan ehabon dan komix di kalangan anak remaja dan pemuda. Ini juga harus menjadi perhatian, karena efeknya merusak kesehatan.

“Tanpa Narkoba, tentu generasi muda Sulut akan menjadi generasi sehat yang bisa berkontribusi bersama dalam pembangunan daerah dan bangsa tercinta,” tukasnya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Sulut, Marsel Sendoh melalui Kabid Pemuda, Cherry Maringka menerangkan, narkoba memang membawa satu ancaman buruk yang jika tidak diantisipasi dan ditangani, bisa menimbulkan satu dampak yang merugikan generasi penerus bangsa.

“Apalagi banyak penguna Narkoba merupakan anak-anak muda. Pihak kami ikut mendorong upaya antisipasinya dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan positif, baik di bidang olahraga dan bidang lainnya. Ini tujuannya untuk menumbuhkan wawasan berpikir yang positif, serta mengedukasi masyarakat terkait kesehatan tubuh,” ungkapnya.

Ketua Perhumas Manado, Gladys Runtukahu menerangkan, Perhumas Manado sangat mendukung dan siap menunjang kegiatan-kegiatan terkait upaya pencegahan dan penanggulangan penggunaan narkoba.

“Kita siap ambil peran baik sosialisasi serta cara dan upaya pencegahannya. Apalagi, banyak anggota Perhumas Manado merupakan kaum muda. Kami juga ada program Perhumas Muda yang nantinya menjadi corong menjangkau generasi millennial,” terang Runtukahu.r (Rivco Tololiu/Stenly Sajow)